MAKALAH HUKUM POLIGAMI DAN MONOGAMI

00.48.00
MAKALAH
KEHARUSAN MENUNTUT ILMU DAN KEDUDUKAN ILMUWAN

BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar belakang
Bila dilihat dari sisi tujuan penurunnya, al-Qur’an merupakan petunjuk dan pedoman yang mengarahkan manusia untuk menjalani kehidupan ini dengan baik sesuai perintah Allah Swt, karenanya sangat beralasan bila Sa’id Hawwa dalam tafsirnya “al-Asas Fi al-Tafsir“ mengatakan bahwa al-Qur’an adalah kitab tarbiyah (Hawwa, 1987:2). Ada beberapa alasan yang melandasi statement al-Qur’an adalah kitab Pendidikan, diantaranya, pertama, ayat yang pertama turun berisikan perintah untuk membaca, dan hal ini terkait dengan pendidikan, yaitu JIA/Desember 2011/Th. XII/Nomor 2/1-15 dalam surat al-Alaq ayat 1-5; kedua, dilihat dari sumbernya, al-Qur’an diwahyukan oleh Allah Swt, dimana peranNya terhadap makhluqnya sebagai pendidik pula. Ketiga, dari sisi pembawanya adalah nabi Muhammad yang juga seorang pendidik umat, karena salah satu tugas kenabianNya adalah mensucikan manusia, hal ini dapat diartikan dengan pendidikan juga, keempat, dari sisi namanya al-Qur’an juga menunjukkan keterkaitan dengan pendidikan contohnya, al-Qur’an, al-Kitab dan lain-lain. Kelima, bila dilihat dari misi al-Qur’an, misi utamanya adalah pembinaan akhlaq mulia, sebagaimana nabi Muhammad juga diutus untuk menyempurnakan akhlaq. Telah banyak upaya menggali ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan pendidikan dilakukan oleh para praktisi pendidikan. Dari pernyataan diatas maka makalah ini akan membahas tentang ayat – ayat Al – Quran yang berkaitan dengan pendidikan









BAB II
PEMBAHASAN
A.    Surat Al – Alaq Ayat 1 – 5

ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
Artinya :
1)      bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2)      Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3)      Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4)      yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5)      Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

a.   Munasabatul Ayat
Setelah pada surat sebelumnya disebutkan bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang sempurnya ( أًحْسَنِ تَقْوِيْم     ) kemudian dalam surat ini disebutkan kejadian manusia dari segumpal darah sampai pada akhirnya disini di bahas keadaan manusia di akhirat.
b.      Asbabun Nuzul
Disebutkan bahwa Nabi S.A.W.  beribadah dalam gua Hira beberapa malam, kemudain turunlah ayat ini. Lima ayat ini deisepakati turun di makah sebelum Nabi S.A.W. hijrah, bahkan hampir semua ulama sepakat bahwa wahyu yang pertama diterima Nabi S.A.W. adalah lima ayat ini, Thahir Ibnu Asyur menyatakan bahwa lima ayat ini turun pada tanggal tujuh belas ramadhan dan hal ini banyak di ikuti oleh ulama.
Nama yang populer pada masa sahabat adalah surat iqra’ bismirabbika, dan nama yang banyak tercantum dalam mushaf adalah al-Alaq’ ada juga yang menamainya dengan surah iqra’.

c.       Pembahasan
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ  
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
           
a)      Tafsir Mufrodat :
Kata (اقْرَأْ ) terambil dari kata kerja ( قَرَأَ  ) yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila anda merangkai huruf atau kata kemudian anda mengucapkan rangkaian tersebut maka anda telah menghimpunnya yakni membacanya. Dengan demikian realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengan oleh orang lain. Karenanya, dalam kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut. Antara lain : menyampaikan, menelaan, membaca, mendalami, meneliti, mengaetahui ciri-ciri sesuatu dan sebagainya, yang kesemuanya bermula dari arti menghimpun.
Ayat di atas tidak menyebutkan objek bacaan - dan jibril AS. ketika itu tidak juga membaca suatu teks tertulis, dan karena itu dalam satu riwayat dinyatakan bahwa Nabi S.A.W. bertanya : ( مَا أَقْرَأُ  ) apa yang harus saya baca ?
b)     Penjelasan:
Beraneka ragam pendapat ahli tefsir tentang objek bacaan yang dimaksud, ada yang berpendapat wahyu (al-Qur’an) sehingga perintah itu dalam arti : “bacalah wahyu-wahyu (al-Qur’an)” ketika dia turun nanti. Ada juga yang berpendapat bahwa objeknya adalah ismi robbika sambil menilai huruf ba’ yang menyertai kata kata ismi adalah sisipan sehingga ia berarti bacalah nama tuhanmu atau berdzikirlah. Tapi jika demikian mengapa Nabi S.A.W.menjawab “ saya tidak dapat membaca “ seandainya yang dimaksud perintah berdzikir tentu beliau tidak menjawab demikian karena jauh sebelum datang wahyu beliau senantiasa melakukannya.
Muhammad Abduh memahami peritah membaca di sini bukan sebagai beban tugas yang harus dilaksanakan (amr taklif) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah amar takwini yang mewujudkan kemampuan membaca secara actual pada diri pribadi Nabi Muhammad S.A.W. pendapat ini dihadang oleh kenyataan bahwa setelah turunnya perintah ini pun Nabi S.A.W. masih tetap dinamai oleh al-Qur’an sebagai seorang Ummy (tidak pandai membaca dan menulis), di sisi lain jawaban Nabi S.A.W. kepada malaikat jibril ketika itu, tidak mendukung pemahaman itu.
Huruf ( ب ) pada kata (بِاسْمِ ) ada juga yang memahaminya sebagai pernyertaan atau mulabasah, seingga dengan demikian ayat tersebut berarti “bacalah disertai dengan nama Tuhanmu”.
Sementara ulama memahami kalimat bismi rabbika bukan dalam pengertian harfiahnya, sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak masa jahiliah mengaitkan suatu pekerjaan dengan nama sesuatu yang mereka agungkan. Itu memberi kesan yang baik atau katakanlah “berkat” terhadap epkerjaan tersebut juga untuk menunjukkan bahwa pekerjaan tadi dilakukan semata-mata karena “dia” yang namanya disebutkan tadi. Dahulu, misalnya sebelum turunnya al-Qur’an, kaum musyrikin sering berkata “bismi al-lata” dengan maksud bahwa apa yang mereka lakukan tidak kecuali demi tuhan berhala al-lata, dan bahwa mereka mengharapkan anugrah dan berkah” dari berhala tersebut.
Mengaitkan pekerjaan membaca dengan nam Allah mengantarkan pelakunya untuk tidak melakukannya kecuali karena Allah, dan hal ini akan mengahsilkan keabadian, karena hanya Allah yang kekal abadi dan hanya aktifitas yang dilakukan secara ikhlas yang akan diterimanya, tanpa keikhlasan semua aktifitas akan berakhir dengan kegagalan dan kepunahan (baca Q.S. al-Furqon 25).
Menurut Syaikh al-Maroghi, اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ adalah jadilah kamu orang yang bisa membaca dengan kekuasaan Allah Tuhan penciptamu dan menginginkan kamu bisa membaca walaupun sebelumnya tidak, yang sesungguhnya saat itu Nabi S.A.W. tidak bisa baca tulis, dan telah datang perintah Ketuhanan bahwa Nabi S.A.W. hendaknya bisa membaca walaupun tidak bisa menulis dan akan diturunkan kepadanya al-Quran yang akan dia baca walaupun dia tidak menulisnya. Ringkasnya adalah Allah yang telah menjadikan alam semesta mampu menjadikan Nabi S.A.W. bisa membaca walaupun tidak didahului dengan belajar.
c)   Kesimpulan
Menurut kaidah kebasaan menyatakan apabila ada suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Oleh karena itu bahwa kata iqro’ digunakan dalam arti membaca, menelaah, menyampaikan dan sebagainya, dan objeknya bersifat umum, maka objek kata tersebut segala yang dapat terjangkau baik ia merupakan bacaan suci yang bersumber dari Tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut ayat yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Al hasil perintah iqro’mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis baik suci maupun tidak.
Ayat ini menegaskan supaya kita bisa membaca.
t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ  
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
a)      Tafsir Mufrodat
Kata الْإِنْسَانَ terambil dari akar kata أنس, jinak dan harmonis atau dari kata نسي yang berarti lupa, ada juga yang berpendapatberasal dari kata نوس yakni gerak atau dinamika.
Makna di atas paling tidak memberikan gambaran sepintas tentang potensi atau sifat makhluk tersebut, yakni bahwa memiliki sifat lupa, dan kemampuan bergerak atau melahirkan dinamika.
Ia juga adalah makhluk yang selalu atau sewajarnya melahirkan rasa senang, harmonisme dan kebahagiaan kepada pihak lain.
b)     Penjelasan
Kata insan menggambarkan manusia dengan berbagai keragaman sifatnya, kata ini berbeda dengan kata basyar yang juga diterjemahkan dengan manusia, tetapi maknanya lebih banyak mengacu kepada manusia dengan segi fisik serta nalurinya yang tidak berbeda antara seseorang manusia dengan mansia lain.
Manusia adalah makhluk pertama yang disebut Allah dalam al-Qur’an melalui wahyu pertama, bukan saja karena ia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, atau segala sesuatu dalam alam raya ini diciptakan dan ditundukkan Allah demi kepentingannya, tetapi juga karena kitab suci al-Qur’an ditujukan kepada manusia guna menjadi pelita kehidupannya.
Salah satu cara yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk menghantar manusia menghayati pentunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya antara lain dengan menguraikan proses kejadiannya. Ayat ke 2 surat iqro’ menguraikan secara sangat singkat hal tersebut.
Kata ‘alaq dalam kamus bahasa arab digunakan dalam arti segumpal darah, juga dalam arti cacing yang terdapat di dalam air bila diminum oleh binatang maka ia tersangkut di kerongkonganya. Banyak ulama masa lampau memahami ayat di atas dalam pengertian pertama. Tetapi ada juga yang memahaminya dalam sesuatu yang tergantung di dinding rahim. Ini karena para pakar embriolog menyatakan bahwa setelah terjadinya pertemuan antara seperma dan indung telur ia berproses dan membelah menjadi dua, kemudian empat, kemudian delapan demikian seterusnya sambil bergerak menuju ke kantong kehamilan dan melekat bertempat serta masuk ke dinding rahim.
c)      Kesimpulan
Dari ayat 2 ini dapat ditarik kesimpulan bahwa salah satu yang ditempuh oleh al-Qur’an untuk mengantar manusia menghayati petunjuk Allah adalah memperkenalkan jati dirinya dengan menguraikan proses kejadiannya, karena kata ‘alaq bisa juga dipah soial yang tidak dapat hidup sendiri tetapi selalu bergantung pada selainnya, ini serupa dengan firman Allah خُلِقَ الْإِنْسَانُ مِنْ عَجَلٍ  [الأنبياء/37] (Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa.)

ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ  

Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
a)      Tafsir Mufrodat
Kata الْأَكْرَمُ biasa diterjemahkan dengan yang maha atau paling pemurah atau semulia-mulia. Kata ini terambil dari kata كرم yang antara lain berarti memberikan dengan mudah dan tanpa pamrih, bernilai tinggi, terhormat, mulia, setia dan sifat kebangsawanan.

b)     Penjelasan
Dalam al-Qur’an ditemukan kata karim terulang sebanyak 27 kali. Tidak kurang dari 13 subjek yang disifati dengan kata tersebut, yang tentu saja berbeda-beda maknanya dan karena itu pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kata ini digunakan untuk menggambarkan sifat terpuji yang sesuai dengan objek yang disifatinya. Ucapan yang karim adalah ucapan yang baik, indah terdengar, benar susunan dan kandungannya, mudah dipahami cara menggambarkan segala sesuatu yang ingin disampaikan oleh pembicara. Sedang rizki yang karim adalah yang memuaskan, bermanfaat serta halal.
Allah menyandang sifat karim menurut imam al-Ghozali sifat ini menunjuk kepadanya yang mengandung makna antara lain bahwa : Dia yang bila berjanji menepati janjinya, bila memberi melampoi batas memberi. Dia yang tidak rela bila ada kebutuhan yang dimohonkan kepada selain-Nya. Dia yang bila atau kecil hati, menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapapun yang menuju yang berlindung kepada-Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
Ibn al-Arabi menyebut 16 makna dari sifat Allah ini antara lain : yang disebut oleh al-Ghozali di atas, dan juga “ Dia yang bergembira dengan diterima anugrahnya, serta yang memberi sambil memuji yang diberinya, Dia yang memberi siapa yang mendurhakainya, bahkan memberi sebelum diminta dan lain-lain.
Kata al-Karim yang menyifati Allah dalam al-Qur’an kesemuanya menunjuk kepada-Nya dengan kata Robb bahkan demikian juga kata akrom sebagaimana terbaca di atas. Penyifatan kata Robb dan Karim menunjukkan bahwa kata karom atau anugrah kemurahannya dalam berbagai aspek, dikaitkan dengan rububiyahnya, yakni Pendidikan, Pemeliharaan dan Perbaikan makhluknya, sehingga anugrah tersebut dalam kadar dan waktunya selalu bebarengan serta bertujuan perbaikan dan pemeliharaan.
Sebagai makhluk, kita dapat menjangkau betapa besar karom Allah S.W.T. karena keterbatasan kita dihadapannya. Namun demikian sebagian darinya dapat diungkapkan sebagai berikut : “ bacalah wahai Muhammad, tuhanmu akan menganugrahkan dengan sifat kemurahannya pengetahuan tentang apa yang tidak engkau ketahui. Bacalah dan ulangi bacaan tersebut walaupun objek bacaannya sama, niscaya tuhanmu kan memberikan pandangan serta pengertian baru yang tadinya belum engkau belum peroleh pada bacaan yang sama dalam objek tersebut.” “Bacalah dan ulangi bacaan, tuhanmu kan memberi manfaat kepadamu, manfaat yang tidak terhingga karena dia akrom, memiliki segala macam kesempurnaan.”
c)      Kesimpulan
Disini kita dapat melihat perbedaan antara perintah membaca pada ayat pertama dan ke tiga, yakni yang pertama menjelaskan syarat yang harus dipenuhi seseorang ketika membaca (dalam segala pengertian) yaitu membaca demi karena Allah, sedang perintah yang ke dua menggambarkan manfaat yang diperoleh dari bacaan bahkan pengulangan bacaan tersebut.
Dalam ayat ke tiga ini Allah menjanjikan bahwa pada saat seseorang membaca dengan ikhlas karena Allah maka Allah akan menganugrahkan kepadanya ilmu pengetahuan, pemahaman, wawasan baru walaupun yang dibacanya itu-itu juga. Apa yang dijanjikan ini terbukti sangat jelas. Kegiatan “membaca” ayat al-Qur’an menimbulkan penafsiran baru atau pengembangan dari pendapat yang telah ada. Demikian juga kegiatan membaca alam raya ini telah menimbulkan penemuan baru yang membuka rahasia alam, walaupun objek bacaanya itu-itu juga. Ayat al-Qur’an yang dibaca oleh generasi terdahulu dan alam raya yang mereka huni adalah sama-tidak berbeda, namun pemahaman mereka serta penemuan rahasianya terus berkembang.
Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ  
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
a)      Tafsir Mufrodat
Kata الْقَلَمِ terambil dari kata kerja قلم yang berarti memotong ujung sesuatu. Memotong ujung kutu disebutتقليم , tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai مقالم.


b)     Penjelasan
Kata qolam disini dapat berarti hasil dan penggunaan alam tersebut, yakni tulisan, ini karena bahasa, sering kali menggunkan kata yang berarti alat atau penyebab untuk menunjuk akibat atau hasil dari penyebab atau penggunaan alat tersebut, misalnya, jika seseorang berkata “ saya hawatir hujan” maka yang dimasud dengan kata hujan adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.
Makna di atas dikuatkan oleh firan Allah dalam surat al-Qolam (68):1, yakni firmannya “ Nuun, demi qolam dan apa yang mereka tulis”. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa awal surat al-Qolam turuns setelah akhir ayat ke lima surat al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya ke dual kata qolam tersebut berkaitan erat, bahwan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikain.
Pada ke dua ayat di atas terdapat apa yang dinamai ikhtiba’ yang maksudnya adalah tidak disebutkan sesuatu keterangan, yang sewajarnya ada pada dua susunan kalimat yang bergandengan, karena keterangan yang dimaksud telah disebut pada kalimat yang lain. Pada ayat 4 kata manusia tidak disebut karena telah disebut pada ayat lima, dan pada ayat 5 kalimat tanpa pena tidak disebut karena pada ayat empat telah disyaratkan ma’na itu dengan sebutkan pena. Dengan demikian kedua ayat di atas dapat berarti “ Dia(Allah) mengajarkan dengan pena (tulisan) (hal-hal yang telah diketahui sebelumya). Dia mengajarkan manusia (tanpa pena) apa yang belum diketahui sebelumnya. Kalimat “ yang telah diketahui sebelumnya disisipkan karena isyarat pada susunan kedua yaitu yang belum atau tidak diketahui sebelumnya”. Sedang kalimat “tanpa pena” ditambahkan karena ada kata “ dengan pena” dalam susunan pertama. Yang dimaksud dengan ungkapan “ telah diketahui sebelumnya adalah khozanah pengetahuan sebelumnya dalam bentuk tulisan.
c)      Kesimpulan
Dari uraian di atas kita dapat menyimpulkan bahwa kedua uraian di atas menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah S.W.T. dalam mengajar manusia. Pertama melalui pena atau tulisan yang harus dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa alat.
Pada awal surat ini Allah telah mengenalkan diri sebagai yang maha kuasa, maha mengetahui dan maha pemurah. Pengetahuan-Nya melimputi segala sesuatu, sedangkan karom atau kemurahan-Nya tidak terbatas, sehingga dia berkuasa dan berkenan untuk mengajar manusia dengan atau tanpa pena.
Wahyu Ilahi yang diterima oleh manusia agung dan suci jiwanya adalah tingkat tertinggi dari bentuk pengajarannya. Tanpa alat dan tanpa usaha manusia. Nabi Muhammad S.A.W. dijanjikan oleh Allah dalam wahyunya yang pertama untuk termasuk dalam kelompok tersebut.

B.     Surat An – Naml Ayat 40
tA$s% Ï%©!$# ¼çnyZÏã ÒOù=Ïæ z`ÏiB É=»tGÅ3ø9$# O$tRr& y7Ï?#uä ¾ÏmÎ/ Ÿ@ö6s% br& £s?ötƒ y7øs9Î) y7èùösÛ 4 $£Jn=sù çn#uäu #É)tGó¡ãB ¼çnyZÏã tA$s% #x»yd `ÏB È@ôÒsù În1u þÎTuqè=ö6uÏ9 ãä3ô©r&uä ÷Pr& ãàÿø.r& ( `tBur ts3x© $yJ¯RÎ*sù ãä3ô±o ¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9 ( `tBur txÿx. ¨bÎ*sù În1u @ÓÍ_xî ×Lq̍x. ÇÍÉÈ  
Artinya : “Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia".
Penjelasan
Nabi Sulaiman dibantu anakbuahnya bernama Ashif bin Barkhiya yaitu seorang yang memiliki ilmu dan hikmah. Kemampuannya memindahkan tahta kerajaan ratu Bilqis lebih cepat daripada kemampuan jin Ifrith yang menjanjikan tahta itu pindah sebelum nabi sulaiman berdiri dari tempat duduknya, Ashif bin Barkhiya mampu memindahkan tahta itu hanya dalam waktu satu kedipan mata. Maka takluklah ratu Bilqis penguasa negeri Saba’ akhirnya dia menikah dengan Nabi Sulaiman dan hidup berbahagia hingga akhir hidupnya.
Nabi Sulaiman bersyukur kepada Allah ketika melihat singgasana itu terletak di hadapannya.
C.    Surat Fathir Ayat 27 – 28

óOs9r& ts? ¨br& ©!$# tAtRr& z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oYô_t÷zr'sù ¾ÏmÎ/ ;NºtyJrO $¸ÿÎ=tFøƒC $pkçXºuqø9r& 4 z`ÏBur ÉA$t6Éfø9$# 7Šyã` ÖÙÎ/ ֍ôJãmur ì#Î=tFøƒC $pkçXºuqø9r& Ü=ŠÎ/#{xîur ׊qß ÇËÐÈ   šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& šÏ9ºxx. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# îƒÍtã îqàÿxî ÇËÑÈ  
Artinya :
“Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.
“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”
Penjelasan
Kata ( جدد) judad adalah bentuk jamak dari kata ( جدّة) juddah yakni jalan. Kata ( بيض) bidh adalah bentuk jamak dari kata (أبيض) abyadh, kata (سود) adalah bentuk jamak dari kata (أسود) aswad/ hitam, dan kata ( حمر) humur adalah bentuk jamak dari kata ( أحمر) ahmar. Adapun kata ( غرا بيب) gharabib adalah bentuk jamak dari kata ( غربيب) ghirbib yaitu yang pekat (sangat) hitam. Sebenarnya istilah yang lumrah dipakai adalah ( سودغرابيب) sud gharabib/ hitam pekat, tetapi redaksi ayat ini membaliknya untuk menggambarkan kerasnya kepekatan itu. [1]
Pada ayat ini Allah menguraikan beberapa hal yang menunjukkan kesempurnaan dan kekuasaan-Nya, yang dapat dilihat manusia setiap waktu. Jika mereka menyadari dan menginsafi semuanya itu, tentu mereka akan menyadari pula keesaan dan kekuasaan Allah Yang Maha Sempurna itu. Di antara tanda-tanda itu adalah Allah menjadikan sesuatu yang beraneka macamnyayang bersumber dari yang satu. Allah menurunkan hujan dari langit, sehingga tanaman bisa tumbuh dan mengeluarkan buah-buahan yang beraneka ragam warna, rasa, bentuk, dan aromanya sebagaimana yang kita saksikan. Buah-buahan itu warnanya ada yang kuning, merah, hijau dan sebagainya. [2]
Al’alim adalah orang yang sangat berpengetahuan atau orang yang mempunyai ilmu pengetahuan mendalam. Pada mulanya akar kata yang terdiri dari kata (‘ain, lam, mim) artinya adanya bekas pada sesuatu yang dengan bekas itu sesuatu tersebut berbeda dengan lainnya. Tanda pada sesuatu disebut juga dengan alamat. ‘Alam juga berarti bendera atau gunung, karena keduanya menjadi tanda. Kata ilmu juga terkait dengan arti  akar kata ini, karena dengan ilmu seseorang akan berbeda dengan orang yang tidak berilmu. Kata al ulama di tujukan kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dalam bidang apa saja. Dalam konteks keislaman biasanya ungkapan ini untuk menunjukkan kepada orang yang sangat dalam pengetahuan agamanya. [3]
Dan setelah Allah menyebutkan satu persatu tanda-tanda kebesaran, bukti-bukti kekuasaan dan bekas-bekas penciptaan-Nya, maka Dia terangkan pula bahwa semua itu takkan di ketahui sebaik-baiknya kecuali oleh orang-orang yang berilmu tentang rahasia alam semesta yaitu orang-orang yang mengetahui tentang rincian-rincian ciptaan Allah SWT. Mereka itulah yang paham akan hal itu sebaik-baiknya dan mengetahui betapa keras hantaman Allah dan betapa besar tekanan-Nya.
Ada sebuah asar yang diriwayatkan dari  Ibn Abbas bahwa dia berkata, “orang yang berilmu tentang Allah Yang Maha Pencipta di antara hamba-hamba-Nya ialah orang yang tidak menyekutukan Dia dengan sesuatu pun, menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, memelihara wasiat-Nya dan yakin bahwa dia akan bertemu dengan-Nya dan memperhitungkan amalnya.”
Sedang Hasan Al-Basri berkata, “Orang yang berilmu ialah orang yang takut kepada Allah Yang Maha Pengasih, sekalipun dia tidak mengetahui-Nya. Dan menyukai apa yang disukai oleh Allah dan menghindari apa yang dimurkai Allah.” [4]
D.    Surat Al – Mujadalah Ayat 11
$pkšr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râà±S$# (#râà±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uyŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ  
Artinya : “ Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Penjelasan
Kata (تفسّحوا) tafassahu dan (افسحوا ) ifsahu terambil dari kata (فسح) fasaha, yakni lapang. Sedang kata (انشزوا) unsyzu terambil dari kata (نشوز) nusyuz, yakni tempat yang tinggi. Perintah tersebut pada mulanya berarti beralih ke tempat yang tinggi. Yang dimaksud di sini pindah ke tempat lain untuk memberi kesempatan kepada yang lebih wajar duduk atau berada di tempat yang wajar pindah itu atau bangkit melakukan satu aktifitas positif. Ada juga yang memahaminya berdirilah dari rumah Nabi, jangan lama-lama di sana, karena boleh jadi ada kepentingan Nabi SAW yang lain dan yang perlu segera beliau hadapi.
Kata ( مجالس) majalis adalah bentuk jamak dari kata ( مجلس) majlis. Pada mulanya berarti tempat duduk. Dalam konteks ayat ini adalah tempat Nabi Muhammad SAW. memberi tuntunan agama ketika itu. Tetapi, yang dimaksud di sini adalah tempat keberadaan secara mutlak, baik tempat duduk, tempat berdiri, atau bahkan tempat berbaring. Karena, tujuan perintah atau tuntunan ayat ini adalah memberi tempat yang wajar serta mengalah kepada orang-orang yang dihormati atau  yang lemah. Seorang tua non-muslim sekalipun jika Anda-wahai yang muda-duduk di bus atau di kereta, sedang dia tidak mendapat tempat duduk, adalah wajar dan beradab jika Anda berdiri untuk memberinya tempat duduk.
Ayat di atas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang berilmu. Tetapi, menegaskan bahwa mereka memiliki derejat-derajat, yakni yang lebih tinggi daripada yang sekedar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor di luar ilmu itu.
Tentu saja, yang dimaksud dengan ( الّذين اوتواالعلم) alladzina utu al-‘ilm/ yang diberi pengetahuan adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berati ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekadar beriman dan beramal saleh dan yang kedua beriman dan beramal saleh serta memiliki pengetahuan. Derajat kelompok yang kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan saja karena nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain, baik secara lisan, atau tulisan, maupun dengan keteladanan. Ilmu yang di maksud oleh ayat di atas bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. [5]
Kata ilmu berasal dari bahasa Arab ‘Ilmu yang berarti pengetahuan, merupakan lawan kata jahl yang berarti ketidaktahuan atau kebodohan. Sumber lain mengatakan bahwa kata ‘ilmu adalah bentuk masdar dari ‘alima, ya’lamu-‘ilman. Menurut Ibn Zakaria, pengarang buku Mu’jam Maqayis al-Lughab bahwa kata ‘ilm mempunyai arti denotatif “bekas sesuatu yang dengannya dapat dibedakan sesuatu dari yang lainnya”. Menurut Ibn Manzur ilmu adalah antonim dari tidak tahu (naqid al-jahl), sedangkan menurut al-Asfahani dan al-Anbari, ilmu adalah mengetahui hakikat sesuatu (indrak al-sya’i bi haqq qatib). Kata ilmu biasa disepadankan dengan kata Arab lainnya, yaitu ma’rifah (pengetahuan), fiqh (pemahaman), hikmah (kebijaksanaan), dan syu’ur (perasaan). Ma’rifah adalah padanan kata yang paling sering digunakan.
Ada dua jenis pengetahuan, yaitu:
1.   Pengetahuan biasa
         Pengetahuan biasa diperoleh dari keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan, sepperti perasaan, pikiran, pengalaman, panca indra, dan intuisi untuk mengetahui sesuatu tanpa memperhatikan obyek, cara dan kegunaannya.
2.   Pengetahuan ilmiah
            Pengetahuan ilmiah merupakan keseluruhan bentuk upaya kemanusiaan untuk mengetahui sesuatu, tetapi dengan memperhatikan obyek yang ditelaah, cara yang digunakaan, dan kegunaan pengetahuan.[6]
ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz  
Allah mengetahui segala perbuatanmu. Tidak ada samar bagi-Nya, siapa yang taat dan siapa yang durhaka di antara kamu. Orang yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan, dan orang yang berbuat buruk akan dibalas-Nya dengan apa yang pantas baginya, atau diampuni-Nya. [7]
Dari ayat tersebut dapat diketahui tiga hal sebagai berikut:
Pertama, bahwa para sahabat berupaya ingin saling mendekat pada saat berada di majelis Rasulullah SAW, dengan tujuan agar ia dapat mudah mendengar wejangan dari Rasulullah SAW yang diyakini bahwa dalam wejangannya itu terdapat kebaikan yang amat dalam serta keistimewaan yang agung.
Kedua, bahwa perintah untuk saling meluangkan dan meluaskan tempat ketika berada di majelis, tidak saling berdesakan dan berhimpitan dapat dilakukan sepanjang dimungkinkan, karena cara damikian dapat menimbulkan keakraban di antara sesama orang yang berada di dalam majelis dan bersama-sama dapat mendengar wejangan Rasulullah SAW.
Ketiga, bahwa pada setiap orang yang memberikan kemudahan kepada hamba Allah yang ingin menuju pintu kebaikan dan kedamaian, Allah akan memberikan keluasan kebaikan di dunia dan akhirat.Singkatnya ayat ini berisi perintah untuk memberikan kelapangan dalam mendatangkan setiap kebaikan dan memberikan rasa kebahagiaan kepada setiap orang islam.Atas dasar inilah Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah akan selalu menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut selalu meolong sesama saudaranya.[8]
E.  Surat Az – Zumar Ayat 9
ô`¨Br& uqèd ìMÏZ»s% uä!$tR#uä È@ø©9$# #YÉ`$y $VJͬ!$s%ur âxøts notÅzFy$# (#qã_ötƒur spuH÷qu ¾ÏmÎn/u 3 ö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ 3 $yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$# ÇÒÈ  
Artinya : “(apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Yakni dalam keadaan sujud dan berdirinya mereka berqunut. Karena itulah ada sebagian ulama yang berdalilkan ayat ini mengatakan bahwa qunut adalah khusyuk dalam salat bukanlah doa yang dibaca dalam keadaan berdiri semata, yang pendapat ini diikuti oleh ulama lainnya. [9]
Penjelasan
`¨Br& (apakah orang) dapat dibaca amman atau amman- u ìMÏZ»s% qèd (yang beribadat) yang berdiri melakukan amal ketaatan, yakni salat-u È@ø9©9$# ä!$tR#uä (di waktu-waktu malam) di saat-saat malam hari -  $VJͬ!$s%ur#Y0É`$y" (dengan sujud dan berdiri) dalam salat- â notÅzFy$#x9øts  (sedangkan ia takut kepada hari akhirat) yakni takut akan azab hari itu- ( spuH÷qu#qã_ötur (dan mengharapkan rahmat) yakni syurga-mÎn/u (Tuhannya) sama dengan orang yang durhaka karena melakikan kekafiran atau perbuatan-perbuatan dosa lainnya. Menurut qiraat lain, lafadz amman dibaca am man secara terpisah. Dengan demikian, lafadz am berarti bal atau hamzah istifham -öttbqçHs>ôètt t xw ûïÏ%©!$#ur bqßJn=ôèt ûïÏ%©!$#ÈqtGó¡o@yd@è% (katakanlah adakan\h sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?) tentu saja tidak perihalnya sama dengan perbedaan antar orang yang alim dengan orang yang jahil- ㍩.x9tGt$yJ¯RÎ) (sesungguhnya orang yang dapat menerima pelajaran) artinya mau menerima nasihat- É=»t7ø9F{$#(#qä9'ré& (hanyalah orang-orang yang berakal) yakni orang-orang yang mempunyai pikiran.[10]
Setelah ayat yang lalu mengecam dan mengancam orang-orang kafir, ayat di atas menegaskan perbedaan sikap dan ganjaran yang akan mereka terima dengan sikap dan ganjaran bagi orang-orang beriman.Allah berfirma Apakah orang yang beribadah secara tekun dan tulus di waktu-waktu malam dalam keadaan sujud dan berdiri scara mantap dan demikian pula ruku, dan duduk atau berbring dan ia terus-menerus takut kepada siksa akhirat dan dalam saat yang sama senantiasa mengharap rahmat Tuhannya sama dengan mereka yang baru berdoa ketika mendapat musibah dan melupakannya ketika memperoleh nikmat serta menjadikan bagi Allah sekutu-sekutu? Tentu saja tidak sama.[11]
@ø9©9$#uä!$tR#uä  berarti saat diwaktu malam apakah dipermulaan, pertengahan, atau diakhir malam, dan kesunyian malam membuat orang lebih khusyuk dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. ÈAllah memerintahkan Rasulullah SAW bertanya kepada kafir Quraisy apakah kamu, hai orang musyrik, lebih baik keadaan dan nasibmu daripada yang senantiasa menunaikan ketaatan dan selalu melaksanakan tugas-tugas ibadah pada saat-saat malam, ketika ibadah lebih berat bagi jiwa dan lebih jauh dari riya, sehingga ibadah di waktu itu lebih dekat untuk diterima, sedang orang itu dalam keadaan takut dan berarap ketika beribadah. Kesimpulannya, apakah orang yang taat itu seperti halnya orang yang bermaksiat. Kemudian, Allah SWT menegaskan tentang tidak ada kesamaan diantara keduanya dan memperingatkan tentang keutamaan ilmu dan betapa mulianya beramal berdasarkan ilmu. Yang diterangkan dalam kalimat selanjutnya, yang berbunyi:
öö@è% ö@yd ÈqtGó¡o tûïÏ%©!$# tbqçHs>ôètƒ tûïÏ%©!$#ur Ÿw tbqßJn=ôètƒ
Katakan hai Rasul kepada kaummu : Apakah sama orang yang mengetahui pahala yang akan mereka peroleh bila melakukan ketaatan kepada Tuhan mereka dan mengetahui hukuman yang akan mereka terima bila mereka bermaksiat kepada-Nya, dengan orang-orang yang tidak mengetahui hal itu. Yaitu, orang-orang yang merusak amal perbuatan mereka secara membati buta, sedangkan terhadap amal-amal mereka yang baik tidak mengharapkan kebaikan, dan terhadap amal-amal yang buruk mereka tidak takut kada keburukan.
Perkataan tersebut dinyatakan dengan susunan pertanyaan (istifham) untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang mencapai derajat kebaikan tertinggi; sedang yang lain jatuh ke dalam jurang keburukan. Dan hal itu tidaklah sulit dimengerti oleh orang-orang yang sabar dan tidak suka membantah. Kemudian, Allah SWT menerangkan bahwa hal tersebut hanyalah dapat dipahami oleh orang-orang yang mempunyai akal. Karena  orang-orang yang tidak tahu seperti telah disebutkan dalam hati mereka terdapat tutupsehingga tidak dapat memahami suatu nasehat dan tidak berguna bagi mereka suatu peringatan. Firman-Nya :
$yJ¯RÎ) ㍩.xtGtƒ (#qä9'ré& É=»t7ø9F{$#
Sesungguhnya  yang dapat mengambil pelajaran dari hujjah-hujjah Allah dan dapat menuruti nasehat-Nya dan dapat memikirkannya, hanyalah orang-orang yang mempunyai akal dan pikiran yang sehat, bukan orang-orang yang bodoh dan lalai. Pelajaran yang dimaksud dapat berasal dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di alam semesta beserta isinya, atau yang terdapat dalam dirinya serta kisah-kisah umat yang lalu.
Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa orang-orang yang berakal dan berfikiran sehat akan mudah mengambil pelajaran, dan orang-orang yang seperti itu akan memiliki akal pikiran sehat serta iman yang kuat.[12]
Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Quraisy, apakah mereka lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu malam, dalam keadaan sujud dan berdiri dengan sangat khusyuknya. Dalam melaksanakan ibadahnya itu timbullah dalam hatinya rasa takut kepada azab Allah di kampung akhirat, dan memancarlah harapannya akan rahmat Allah.
Perintah yang sama diberikan Allah kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada mereka apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Yang dimaksud dengan orang-orang yang mengetahui ialah orang-orang yang mengetahui pahala yang akan diterimanya, karena amal perbuatannya yang baik, dan siksa yang akan diterimanya apabila ia melakukan maksiat. Sedangkan orang-orang yang tidak mengetahui ialah orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui hal itu, karena mereka tidak mempunyai harapan sedikutpun akan mendapat pahala dari perbuatan baiknya, dan tidak menduga sama sekali akan mendapat hukuman dan amal buruknya.
Di akhir ayat Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran, baik pelajaran dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di langit dan di bumi serta isinya, juga terdapat pada dirinya atau suri teladan dari kisah umat yang lalu.    ﺍﻨﺎﺀﺍﻠﻴﻝ  Ana’ bentuk jamak dari al-Inw atau  al-an-yu atau al-ina. Artinya pada saat diwaktu malam atau siang. Jadi kata ana al-lail artinya saat di waktu malam apakah di permulaan, pertengahan atau di akhir malam. Orang yang melakukan ibadah pada malam hari akan terjauh dari sifat ria, kegelapan malam juga bisa  membikin hati bisa  konsentrasi kepada Allah.[13]












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian ayat-ayat di atas, dapat ditarik kesimpulan diantaranya:
  1. Allah akan lebih meninggikan derajat orang-orang yang beriman serta berilmu pengetahuan, dibandingkan dengan orang-orang yang hanya sekedar beriman saja.
  2. Ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan biasa dan pengetahuan ilmiah.
  3. Ulama’ adalah orang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang luas dalam bidang apa saja.
  4. Sumber ilmu pada garis besarnya ada dua, yaitu:
a.    Ilmu yang bersumber pada wahyu (al-Qur’an) yang menghasilkan ilmu naqli.
b.   Ilmu yang bersumber pada alam melalui penalaran yang menghasilkan ilmu aqli.

B.     Saran
Hendaknya kita sebagai seorang muslim harus selalu menuntut ilmu sebagaimana yang dijelaskan dalam Al – Quran bahwa menuntut ilmu adalah suatu keharusan setiap manusia karena Allah akan mengangkat derajat bagi tiap – tiap orang yang berilmu.












DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mustafa Al-Maraghi. 1993. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. PT. Karya Toha Putra : Semarang.

Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi. 2004. Tafsir Ibnu Kasir. Sinar Baru Algesindo : Bandung.

Al-Maraghiy, Ahmad Musthafa. 1992. Tafsir Al-Maraghiy juz XXII. Toha Putra : Semarang.

Al-Maraghiy, Ahmad Musthafa. 1989. Tafsir Al-Maraghiy juz XXVIII. Toha Putra : Semarang.

Departemen Agama Republik Indonesia, Tafsir Depag, Jilid VIII
Departemen Agama RI. 2010.  Al-Qur’an dan Tafsirnya jilid VIII. Lentera Abadi : Jakarta
Imam Jalaludin Al-Mahalili dan Iman Jalaludin As-Suyuti. 2005. Tafsir Jalalain. Sinar Baru Algesindo : Bandung.

M. Quraysh Shihab. 2002. Tafsir Al-Misbah. Lentera Hati : Jakarta.
Nata, abuddin. 2002. Tafsir Ayat-ayat Pendidikan. PT RajaGrafindo Persada : Jakarta.

Shihab, M.Quraish. 2002. Tafsir Al-Misbah vol. 13. Lentera Hati : Jakarta.







[1]  M. Quraish Shihab, op.cit., hlm. 464
[2]  Kementrian Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya, jilid VIII, (Jakarta: Lentera Abadi, 2010), hlm. 161
[3]  Kementrian Agama RI, Ibid., hlm. 160
[4]  Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, juz XXII, op.cit., hlm. 219-220
[5]  M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah, Vol. 13 (Jakarta: Lentera Hati, 2002), hlm. 490-491
[6]  Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan, (Jakarta: PT RajaGrafido Persada, 2002), hlm. 155-156
[7]  Ahmad Musthafa Al-Maraghiy, Tafsir Al-Maraghiy, juz XXVIII, (semarang: CV Toha Putra, 1989), hlm. 26
[8]  Abuddin Nata, op.cit., hlm. 29
[9]  Al-Imam Abul Fida Ismail Ibnu Kasir Ad-Dimasyqi, Tafsir Ibnu Kasir, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2004), h. 347.
[10]  Imam Jalaludin Al-Mahalili dan Iman Jalaludin As-Suyuti, Tafsir Jalalain, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2005), h. 676

[11]  M. Quraysh Shihab, Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 278.

[12]  Ahmad Mustafa Al-Maraghi. Terjemah Tafsir Al-Maraghi. (Semarang : PT. Karya Toha Putra, 1993), h. 277-279.

[13]  Departemen Agama Republik Indonesia, Tafsir Depag, Jilid VIII , h. 416

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

komentar anda sangat berguna bagi perkembangan blog kami EmoticonEmoticon

Subscribe