Al'Quran dan Hadis Komunikasi Komunikator

21.10.00
MEMAHAMI HADIS DAN AL-QURAN YANG BERKAITAN DENGAN KOMUNIKASI KOMUNIKATOR DAN MENGAKTUALISASIKANYA
Dosen pengampu:
Disuson oleh  : M hendri saputra
                    :  aning nurohman

I.          PENDAHULUAN
Dalam kehidupan, komunikasi sangatlah penting kegunaan dan pengaruhnya dalam segala aspek bidang, baik manusia sebagai hamba, anggota masyarakat, anggota keluarga dan manusia sebagai satu kesatuan yang universal. Tanpa kita sadari atau kita sadari kehidupan sehari-hari manusia tidak pernah lepas dari yang namanya komunikasi baik secara lisan, tulisan dan isyarat (lambang-lambang dan gerak tubuh).
Sebagai seorang muslim sangat baik jika kita menggunakan komunikasi yang Islami, yaitu komunikasi berakhlak al-karimah atau beretika. Komunikasi yang berakhlak al-karimah berarti komunikasi yang bersumber kepada Al-Quran dan Hadis (sunah Nabi).
Komunikasi dalam Islam adalah proses penyampaian pesan-pesan secara baik dan benar  dengan menggunakan etika, Dengan pengertian demikian, maka komunikasi dalam Islam menekankan pada unsur pesan (message), yakni risalah atau nilai-nilai Islam, dan cara (how),dalam hal ini tentang gaya bicara dan penggunaan bahasa (retorika).  dalam Al-Quran dan Al-Hadits ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. Kita dapat mengistilahkannya sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam.


II.          PEMBAHASAN
a.        Pengertian komunikasi
Komunikasi berasal dari kata Latin “communis” yang berarti sama. Harold Lasswell menggambarkan komunikasi sebagai berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Yang berarti Siapa, Mengatakan Apa, Dengan Saluran Apa, Dengan Siapa, Dengan Pengaruh Bagaimana. (Deddy Mulyana, Hal. 62)
Dari konsep Lasswell tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana seseorang (komunikator) menyampaikan suatu pesan melalui media tertentu kepada orang lain (komunikan) dengan harapan adanya suatu efek dari proses tersebut. Atau digambarkan sebagai berikut:
komunikator         pesan          media         komunikan         efek
Semua aktivitas sehari-hari yang dilakukan manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk komunikasi. Baik dengan seseorang (interpersonal), banyak orang (kelompok), atau bahkan dengan dirinya sendiri (intrapersonal). (http://arshadgraffity.blogspot.com/2010/12/bahasa-indonesia-identitas-kita.html. 21-feb-2015).

b.      Etika Komunikasi komunikator Dalam Alqur’an
Prinsip komunikasi komunikator dalam alquran antara lain:
1.      Prinsip Qaulan Baligha (قَوْلًا بَلِيغًا) / Perkataan yang membekas pada jiwa

QS. An Nisa ayat 63
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”.
Qaulan baligha artinya menggunakan kata-kata yang efektif, tepat sasaran, komunikatif, mudah dimengerti, langsung ke pokok masalah (straight to the point), dan tidak berbelit-belit atau bertele-tele.
Agar komunikasi tepat sasaran, gaya bicara dan pesan yang disampaikan hendaklah disesuaikan dengan  kadar  intelektualitas komunikan dan menggunakan bahasa yang dimengerti oleh komunikan.

”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengan bahasa kaumnya” (QS.Ibrahim:4)

Gaya bicara dan pilihan kata dalam berkomunikasi dengan orang awam tentu harus dibedakan dengan saat berkomunikasi dengan kalangan cendekiawan. Berbicara di depan anak TK tentu harus tidak sama dengan saat berbicara di depan mahasiswa. Dalam konteks akademis, kita dituntut menggunakan bahasa akademis. Saat berkomunikasi di media massa, gunakanlah bahasa jurnalistik sebagai bahasa komunikasi massa (language of mass communication). (http://angeliazolana.blogspot.com/2012/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-none_3425.html, 21-feb-2015).

2.      Qaulan Sadida (قَوْلًا سَدِيدًا)  (perkataan yang benar, jujur)
QS. An Nisa ayat 9
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraannya)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (qaulan sadida)”.
Moh. Natsir dalam Fiqhud dakwahnya mengatakan bahwa, Qaulan Sadida adalah  perkataan lurus (tidak berbeli-belit), kata yang benar,keluar dari hati yang suci bersih, dan diucapkan dengan cara demikian rupa, sehingga tepat mengenai sasaran yang dituju yakni sehingga panggilan dapat sampai mengetuk pintu akal dan hati mereka yang di hadapi.
Dari segi redaksi, komunikasi Islam harus menggunakan kata-kata yang baik dan benar, baku, sesuai kadiah bahasa yang berlaku. Dalam dunia pendidikan, Qaulan Sadida dapat dicontohkan dengan memberikan  pengetahuan yang benar. Dalam artian sebagai pendidik harus benar-benar menguasai materi yang akan diajarkan. Sehingga tidak terjadi kebohongan, kesalahan yang nantinya menyesatkan.

3.      Qaulan Ma’rufa (قَوْلًا مَعْرُوفًا)  (perkataan yang baik)
QS. Al Ahzab ayat 32
َا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.”

Qaulan Ma’rufa bermakna pembicaraan yang bermanfaat dan menimbulkan kebaikan. Dalam beberapa konteks dijelaskan, bahwa qaul ma'ruf adalah perkataan yang baik, yang menancap ke dalam jiwa, sehingga yang diajak bicara tidak merasa dianggap bodoh (safih); perkataan yang mengandung penyesalan ketika tidak bisa memberi atau membantu; Perkataan yang tidak menyakitkan dan yang sudah dikenal sebagai perkataan yang baik
Qaulan Ma’rufa bagi seorang pendidik akan menjadi sebuah keteladanan. Tutur kata seorang guru mencerminkan dirinya. Seorang peserta didik akan merasa segan karena wibawa seorang pendidik berawal dari tutur katanya. Dalam situasi apapun seorang pendidik harus mampu mengendalikan perkataannya kepada siapa saja.

4.      Qaulan Karima (قَوْلًا كَرِيمًا) (perkataan yang mulia)
QS. Al Isra’ ayat 23
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perktaan yang baik”.
Qaulan karimah adalah perkataan yang mulia, dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, enak didengar, lemah-lembut, dan bertatakrama.
Qaulan Karima harus digunakan khususnya saat berkomunikasi dengan kedua orangtua atau orang yang harus kita hormati. Seorang pendidik mengharapkan dihormati oleh peserta didiknya haruslah ia terlebih dahulu yang memberi contoh bagaimana menghormati orang lain.

5.      Qaulan Layyinan (قَوْلًا لَيِّنًا) (perkataan yang lembut)
QS. Thaha ayat 43-44
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun karena benar-benar dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut”.
Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati maksudnya tidak mengeraskan suara, seperti membentak, meninggikan suara.
Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita. Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi.

6.      Qaulan Maysura (قَوْلًا مَيْسُورًا) (perkataan yang ringan)
QS. Al Isra’ ayat 28
وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah”.
Qaulan maisura artinya perkataan yang mudah diterima, dan ringan, yang pantas, yang tidak berliku-liku.
Contoh dalam dunia pendidikan ucapan yang penuh pengertian adalah ketika salah satu siswa mengalami kesulitan dalam belajar ataupun sedang mengalami masalah, sebagai seorang pendidik memiliki kewajiban untuk berkomunikasi dengan peserta didik tersebut untuk memecahkan masalahnya, membantunya dengan bahasa yang penuh perhatian dan pengertian sehingga dapat meringankan beban ataupun memberi saran-saran untuk mengatasi masalahnya.

b.      Hadist
Di dalam hadits Nabi juga ditemukan prinsip-prinsip etika komunikasi, bagaimana Rasulullah saw mengajarkan berkomunikasi kepada kita. Berikut hadits-hadits tersebut:

1.      Qulil haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya)
2.      3.      عَنْ اَنَسٍ رَ ضِيَ ا للهُ عَنْهُ: أَنَ النَبِيَ ص م . كاَ نَ إ ذاَ تَكَلَمَ بِكَلِمَةٍ اَ عاَ دَ هاَ ثَلاَ  ثَ حَتَي تُفْهَمَ عَنْهُ . وَاِذاَ اَ تَي عَلَي قَوْ مٍ فَسَلَمَ عَلَيْهِمْ سَلَمَ عَلَيْهِمْ ثَلاَ ثاً ( ر وا ه ا لبنحا ر ي )
Artinya: Anas ra berkata: Jika nabi saw mengatakan sesuatu, biasanya mengulanginya tiga kali hingga benar-benar dapat dipahami. Dan apabila mendatangi suatu kaum, biasanya mengucapkan salam kepada mereka, sebanyak tiga kali.” (HR: Banhari)
3.      4.     عَنْ عاَ ءِ شَةَ ضِىَ ا للهُ عَنْهاَ قَا لَتْ : كَا نَ كَلاَ مُ  رَ سُوْ لِ ا للهِ ص م . كَلاَ ماً فَصْلاً تَفْهَمُهُ كُلُ مَنْ يَسْمَعُهُ (رواه ابو داود)  
Artinya: Aisyah ra berkata: Perkataan Rasulullah adalah ucapan yang sangat jelas, jika orang lain mendengarnya, pasti dapat memahaminya.”        (HR:Abu Daud)
4.      Kedua, falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar kalau tidak bisa, diamlah).
5.       Laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara sebelum berpikir terlebih dahulu).
6.      Nabi menganjurkan berbicara yang baik-baik saja, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya, “Sebutkanlah apa-apa yang baik mengenai sahabatmu yang tidak hadir dalam pertemuan, terutama hal-hal yang kamu sukai terhadap sahabatmu itu sebagaimana sahabatmu menyampaikan kebaikan dirimu pada saat kamu tidak hadir”.
7.      Selanjutnya Nabi saw berpesan, “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang…yaitu mereka yang memutar balikan fakta dengan lidahnya seperti seekor sapi yang mengunyah-ngunyah rumput dengan lidahnya”.

Pesan Nabi saw tersebut bermakna luas bahwa dalam berkomunikasi hendaklah sesuai dengan fakta yang kita lihat, kita dengar, dan kita alami.
Prinsip-prinsip etika tersebut, sesungguhnya dapat dijadikan landasan bagi setiap muslim, ketika melakukan proses komunikasi, baik dalam pergaulan sehari-hari, berdakwah, maupun aktivitas-aktivitas lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi (Suatu Pengantar), Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001.
         Al-quran

Diposkan oleh Arsyad, diakses dari http://arshadgraffity.blogspot.com/2010/12/bahasa-indonesia-identitas-kita.html, pada 21/02/2015.


Artikel Terkait

Previous
Next Post »

3 komentar

Write komentar

komentar anda sangat berguna bagi perkembangan blog kami EmoticonEmoticon

Subscribe