Peran Dan Pengaruh Media Dalam Membentuk Karakter

20.58.00
Peran Dan Pengaruh Media Dalam Membentuk Karakter


           
Pendahuluan
         Komunikasi sangat dibutuhkan untuk interaksi sesama manusia,komunikasi dan media masa menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia.(Ngainun Naim, 2011:17).
         Media dengan segala varian, telah berperan besar membentuk jenis-jenis manusia masa kini.Juga telah menjelma seperti serigala yang menyeringai.Mengancam  segala jenis mangsa,


terutama manusia muda. Kita tidak lagi heran ketika segala sesuatu sudah berada di ujung jari kita.Semua tersedia dengan sekali ‘klik’, dari yang berguna sampai yang berbahaya, dari yang layak dilihat sampai yang tak patut ditonton. Semua ada, semua pihak berhak mengaksesnya.(Ali Rifan dkk, 2012:4).
         Kemajuan jaman dan teknologi memang tidak bisa lepas dari kehidupan zaman sekarang.Bahkan seharusnya kemajuan peradaban ini bisa membuat para pelajar semakin berkarakter.Karena apabila dibandingkan dengan masa silam, pembentukan karakter masa kini terbilang lebih mudah dan berpengaruh.Hal ini karena pengaruh media yang besar, bahkan pengaruh media bisa mengalahkan pengaruh negara.Tak bisa lepas dari media, itulah gambaran masyarakat modern sekarang.Termasuk Remaja/pelajar sekarang pun tak di pungkiri sangat memerlukan peran media.Sehingga tak berlebihan apabila era sekarang disebut sebagai eranya media.Namun, nampaknya media sekarang tidak peduli dengan perkembangan karakter Remaja.Media sekarang hanya peduli dengan berapa banyak uang yang masuk ke kantong tebal mereka.Media sekarang hanya menjadi alat propaganda kepentingan-kepentingan yang menjerumuskan kepalsuan. (http://edukasi.kompasiana.com/2012/12/20/peran-media-dalam-membentuk-karakter-pelajar-517451.html 23 november 2014).

 II.         Pembahasan
1.      Peran positif media dalam masyarakat
         Sebelum bicara lebih lanjut tentang peran media massa, kita mulai dulu dengan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan karakter dan pembentukan karakter tersebut. Secara sederhana, karakter dapat diartikan sebagai tabiat, perangai, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang yang lain. Maka, membangun karakter sebenarnya adalah proses mengukir atau menempa jiwa sedemikian rupa, sehingga berbentuk unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain.
Proses pembentukan karakter bermula dari pengenalan nilai-nilai secara kognitif, yang berlanjut dengan penghayatan nilai-nilai secara afektif, yang diharapkan berujung pada penerapan dan pengamalan nilai-nilai tersebut secara nyata dalam kehidupan (praksis). Sebelum terwujud pengamalan nyata, dalam diri manusia bersangkutan harus bangkit keinginan atau dorongan alamiah yang sangat kuat (tekad), untuk mengamalkan nilai-nilai tersebut.
         Di sisi lain, benar juga bahwa pembentukan karakter bukan cuma terjadi di lembaga sekolah, melalui interaksi antara murid dan guru. Pembentukan karakter juga terjadi di rumah (lewat interaksi dengan orangtua, saudara, kerabat), lingkungan sekitar (interaksi dengan pemuka masyarakat, ustadz, rohaniwan, jamaah masjid, teman, dan sebagainya), dan media massa.(http://satrioarismunandar6.blogspot.com/2012/03/peran-media-massa-dalam-pembentukan.html, 23november2014).
         Media massa sangat berperan dalam perkembangan atau bahkan perubahan pola tingkah laku dari suatu masyarakat, oleh karena itu kedudukan media massa dalam masyarakat sangatlah penting. Dengan adanya media massa, masyarakat yang tadinya dapat dikatakan tidak beradab dapat menjadi masyarakat yang beradab. Hal itu disebabkan, oleh karena media massa mempunyai jaringan yang luas dan bersifat massal sehingga masyarakat yang membaca tidak hanya orang-perorang tapi sudah mencakup jumlah puluhan, ratusan, bahkan ribuan pembaca, sehingga pengaruh media massa akan sangat terlihat di permukaan masyarakat.
         Ahli komunikasi massa Harold D Lasswell dan Charles Wright (1954) dalam Akmadsyah Naina dkk (2008: 461-462), menyatakan terdapat empat fungsi sosial media massa, yaitu:
Pertama, sebagai social surveilance. Pada fungsi ini, media massa termasuk media televisi, akan senantiasa merujuk pada upaya penyebaran informasi dan interpretasi seobjektif mungkin mengenai peristiwa yang terjadi, dengan maksud agar dapat dilakukan kontrol sosial sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam lingkungan masyarakat bersangkutan.
Kedua, sebagai social correlation. Dengan fungsi korelasi sosial tersebut, akan terjadi upaya penyebaran informasi yang dapat menghubungkan satu kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya. Begitupun antara pandangan – pandangan yang berbeda, agar tercapai konsensus sosial.
Ketiga, fungsi socialization. Pada fungsi ini, media massa selalu merujuk pada upaya pewarisan nilai-nilai  luhur dari satu generasi ke generasi selanjutnya, atau dari satu kelompok ke kelompok lainnya.
Keempat, fungsi entertainment. Agar tidak membosankan, sudah tentu media massa perlu juga menyajikan hiburan kepada khalayaknya. Hanya saja, fungsi hiburan ini sudah terlalu dominan mewarnai siaran televisi kita, sehingga ketiga fungsi lainnya, seolah telah terlupakan.Untuk itu, fungsi hiburan haruslah ditata agar seimbang dengan 3 (tiga) fungsi lainnya.
Sejatinya, keempat fungsi media massa tersebut bersinergi dan sinkron dalam rangka menyajikan tontonan yang sehat. Sebab, hanya dengan tontonan yang sehat sajalah yang nantinya dapat melahirkan generasi yang sehat.Generasi yang memiliki karakter bangsa. Dalam hal inilah, kesadaran masyarakat dunia pada umumnya dan Indonesia secara khusus perlu bertekad dan berkomitmen untuk mengupayakan agar ke depan jangan lagi mau membiarkan diri dan keluarganya didikte oleh siaran televisi yang tidak mendidik dan bahkan merusak pembangunan karakter bangsa bagi masyarakat (warga negara) dalam pembangunan bangsa ke depan.
Dari penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa: Peran media massa dalam mentransformasikan nilai-nilai kebangsaan merupakan suatu yang sudah seharusnya dan media kita sesungguhnya sudah dan terus melakukannya. Persoalan yang ada, media cukup kesulitan mengangkat nilai-nilai kebangsaan dalam bentuk nyata karena tidak atau belum menemukan nara sumber, tokoh atau fakta-fakta yang dapat atau benar-benar layak menjadi ikon, panutan dalam mentransformasikan nilai-nilai kebangsaan yang relevan dengan kondisi  kehidupan saat ini.
Peran media massa dalam pembangunan karakter bangsa, haruslah berlandas pada perspektif budaya Indonesia yang meletakkan landasannya dalam kerangka negara kesatuan, dengan keanekaragaman budaya yang memiliki nilai-nilai luhur, kebijaksanaan dan pengetahuan lokal yangarif dan bijaksana (local wisdom and local knowledge). Media televisi di Indonesia harus mampu menggali dan menjadikannya sebagai norma acuan atau tolok ukur di dalam melakukan penyiarannya.
Media massa mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam membangun masyarakat yang memiliki karakter karena perannya yang sangat potensial untuk mengangkat opini publik sekaligus sebagai wadah berdialog antar lapisan masyarakat. Terkait dengan isu keragaman budaya (multikulturalisme), peran media massa seperti pisau bermata dua, berperan positif sekaligus juga berperan negatif. Peran positif media massa berupa: (1) kontribusi dalam menyebarluaskan dan memperkuat kesepahaman antarwarga; (2) pemahaman terhadap adanya kemajemukan sehingga melahirkan penghargaan terhadap budaya lain; (3) sebagai ajang publik dalam mengaktualisasikan aspirasi yang beragam; (4) sebagai alat kontrol publik masyarakat dalam mengendalikan seseorang, kelompok, golongan, atau lembaga dari perbutan sewenang-wenang, (5) meningkatkan kesadaran terhadap persoalan sosial, politik, dan lain-lain di lingkungannya.(http://fkipunsa.ac.id/jurnal/peran-media-massa-dalam-pembentukan-karakter-2.html 27 november 2014).
Ciri-ciri dan fungsi komunikasi massa
Komunikasi masa adalah komunikASI MELAlui media massa.
a)      Ciri-ciri komunikasi masa adalah:
1)      Komunikasi massa berlangsung satuarah.
2)      Komunikator pada komunikasi melembaga.
3)      Pesan pada komunikasi masa bersifat umum.
4)      Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan.
5)      Komunikan Komunikasi massa bersifat heterogen.
b)      Fungsi komunikasi massa
1)      Informasi.
2)      Sosialisasi
3)      Motivasi
4)      Perdebatan dan diskusi
5)      Pendidikan
6)      Memajukan kebudayaan
7)      Hiburan
8)      Integrasi. (Onong Ucjhana, 2011:28).

2.      Peran negative media dalam masyarakat
Peran negatif media massa dapat berujud sebagai berikut: (1) media memiliki dan kekuatan “penghakiman” sehingga penyampaian yang stereotype, bias, dan cenderung imaging yang tidak sepenuhnya menggambarkan realitas bisa nampak seperti kebenaran yang terbantahkan; (2) media memiliki kekuatan untuk menganggap biasa suatu tindakan kekerasan. Program-program yang menampilkan kekerasan yang berbasiskan etnis, bahasa dan budaya dapat mendorong dan memperkuat kebencian etnis dan perilaku rasis; (3) media memiliki kekuatan untuk memprovokasi berkembangnya perasaan kebencian melalui penyebutan pelaku atau korban berdasarkan etnis atau kelompok budaya tertentu; (4) pemberitaan yang mereduksi fakta sehingga menghasilkan kenyataan semu (false reality), yang dapat berakibat menguntungkan kepentingan tertentu dan sekaligus merugikan kepentingan pihak lain. (http://fkipunsa.ac.id/jurnal/peran-media-massa-dalam-pembentukan-karakter-2.html 27november 2014).
Pengaruh media masa terhadap masyarakat
            Media juga memiliki pengaruh penting dalam mengonstruksi pola pikir orang kebanyakan.
a.      Generasi muda terhadap media
Kecenderungan pemuda saat ini ialah kerap kali pemuda melakukan hal-hal yang tidak urgen; berlama-lamaan di warnet atau game online, tak ketinggalan juga di rental playstation.
Media, seakan telah merasuki generasi ini dengan beragam tipu muslihatnya.Media, berhasil mengalihkan perhatian mereka untuk tenggelam dalam penggalan-penggalan waktu.Tanpa pernah terbesit untuk sedikit berfikir logis dan futuristic demi dirinya sendiri, apalagii untuk masyarakatnya, lebih-lebih untuk bangsanya. Dan telah nyata, bahwa ketidaksadaran akan fungsi media yang sebenarnya telah membuat generasi muda alpa, bahwa kelak mereka yang akan menentukan arah bangsa ini: kearah kemajuan atau keterpurukan. Jika hal ini tidak di sadari, maka media hiburan akan terus mengendalikan kejiwaan para calon pemimpin bangsa.
Saluran-saluran televisi di Indonesia berlomba-lomba untuk menarik animo penonton dengan berbagai cara. Termasuk yang sedang marak dan banyak digandrungi saat ini adalahacara-acara yang erat kaitanya dengan musik, baik berupa kuis ataupun berupa penampilan-penampilanpara musisi ternama. Diacara-acara seperti inilah animo penonton melonjak hebat, baik penonton lagsung  maupun yang dirumah, terutama kalangan pemuda. Tak ayal,pemasukan finansial bagi TV yang bersangkutan melonjak, space iklanyapun menjadi rebutan perusahan-perusahaan industri.
Dari segi finansial-material memang positif, tetapi pertantyaanya bagaimana jika fenomena tersebut dilihat dari segi moralnya?
Acara yang sifatnya hiburan lebih mendominasi daripada penddikan, bagimana mungkin lagu tentang percintaan (atau bahkan perselingkuhan) bis amenjadi sarana pendidikan? Yang ada hanya terciptanya generasi muda yang haus akan nada cinta. Ironis memang, tapi tak bisa dipungkirikenyataanya.Tak heran jika anak SD saat ini sudah berani bernyayi tentang cinta, rindu dan sayang bahkan ada yang sudah berpacaran.(Ali Rifan dkk, 2012: 5-6).
Yah memang itulah yang dicontohkan oleh media, sebab manusia mempunyai tabiat rekam dan remix.(Wahyu Aditya, 2013: 39).
Tanpa kita sadari media telah mempermainkan generasi muda, ketidak sadaran ini akan terus berlanjut secara terus menerus. Padahal seharusnya pemudalah yang harus memperbudak media demi kepentingan bangsa, bukan sebaliknya.(Ali Rifan dkk, 2012:7).
b.      Dunia Fatamorgana
Masyarakat modern kini tengah berada di dalam dunia kepura-puraan, dunia fatamorgana dan gossip.Ironisnya, mereka percaya pada kepura-puraan itu. Setiap hari mereka disuguhi film dan iklan-iklan yang menawarkan gaya ‘wah’ dengan klip yang bebas moral, juga serat kepura-puraan.
Masyarakat “dipaksa” percaya pada berbagai tayangan, tak heran jika para remaja putra tergiur oleh dunia kepura-puraan, bermimpi mendambakan tubuh seperti model dalam iklan dan film.Bahkan jika ada keajaiban ingin persis seperti mereka.
Berbagai tindak kriminal berupa seks bebas dan kekerasan di dunia hakekatnya merupakan “didikan” dari dunia kepura-puraan.Berbagai tindak kriminal berupa KKN dilakukan masyarakat hakekatya implikasi dari dunia kepura-puraan juga. Mengapa tidak bukankah sinetron dan film-film  sselalumenawarkan enaknya kehidupan mewah? Jalan pintas menuju kemewahan itu tak lain adalah KKn.
“Maka pantas menurut sosiolagi Akbar S. Ahmad (1997) bahwa media televisi di zaman modrn telah menumbuhkan gejala pemujaan tubuh dan personifikasi gaya hidup baru”.
Televisi lewat berbagai menu acaranya telah membius masyarakat.
Televisi kini telah melangkah lebih jauh. Televise bukan saja mempengaruhi sikap dan gaya hidup, tetapi juga sanggup merubah idiologi seseorang bahkan mungkin agama. Sebagaimana komestik telah menjadi idiologi kawula muda yang kini sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka.
Pantas jika Aldous Huxley, seorang pengarang fiksi ilmiah terkemuka pernah meramalkan ihwal kehancuran spiritualitas (iman) akibat gencarnya tayangan kepura-puraan televisi.Bahkan Aldous Hukley dalam Brave New World, salah satu buku karangannya menyebut televisi sebagai “musuh berwajah ramah”.
Begitu pula Neil Postman dalam bukunya Amusing Ourselvess to death, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia Menghibur Diri Sampai Mati (Sinar Harapan, 1995).Menulis bahwa saat ini orang tengah menghibur diri sampai mati.Hal itu dikarankan format televisi ditujukan untuk hiburan bukan untuk sarana pendidikan.
Ironisnya yang menjadi pondasi hiburan itu sendiri adalah tayangan yang mengandung unsur VHS (violience, horror, seks) atau kekerasan, horror, dan pornografi.Bisa dibayangkan jika VHS sudah di jadikan hiburan, maka bukan hal mustahil jika dalam kehidupan sehari-hari pun praktek ketiga unsur tersebut dijadikan hiburan saja.Merampok membunuh, zina atau seks bebas dan lain-lain bukan lagi suatu aib, semuanya dianggap biasa-biasa saja bahkan mungkin dianggap hanya hiburan. (Abu Al-Ghifari,2006:29-32).
c.       Nabi itu bernama artis
Benar apa yang dikhawatirkan Brian S. Turner, Guru besar pada Universitas Flinders, Australia ketika ia mengomentari gagasan pasca modernism Akbar S. Ahmed bahwa ancaman terhadap Islam bukan datang dari warisan Yesus, melainkan dari warisan Madona.
Dunia modern tengah mengalami ancaman degradasi moral secara global. Generasi muda yang tak terbatas pada geneasi islam saja tengah dihadapkan pada penghancuran moral besar-besaran. Dunia modern telah mendesain sedemikian rupa agar artis dijadikan idola remaja yang pada giliranya artis tersebut digunakan untuk model iklan tertentu. Secara otomatis iklan yang dibintangi artis tersebut akan laris di pasaran dan menjadi tren dikalangan remaja.
Artis di zaman modern telah berubah menjadi nabi baru.Segala ucap dan gerak langkah mereka menjadi panutan. Simak bagaimana enaknya masyarakat menirukan gaya berbicara artis dalam iklan. Atau bagaimana ia menirukan cara artis berpakaian. Tak jarang mereka berbuat seperti halnya artis saat berakting, membunuh, mencaci, memfitnah,berkelahi, dan hubungan badan.
Kita bisa melihat begitu hebatnya pengaruh media dalam menggembar-gemborkan artis. Sehingga tatkala seorang artis manca Negara datang ke Indonesia, mereka rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket, bahkan tak jarang mereka menagis histeris tatkala artis yang dipujanya  itu terlihat dengan mata kepala sendiri. Apa sebenarnya yang mereka cari? Secara akal sehat, yang mereka dapatkan hanyalah kerugian materi, waktu dan tenaga.  (Abu Al-Ghifari, 2006: 33-35).
Akibat gencarnya tayangan yang menggambarkan pentingnya sebuah penampilan menarik, maka muncullah bentuk pemujaan tubuh.Media terus menerus mempropagandakan bahwa makna hidup sesungguhnya ada pada penampilan menarik.
         Menurut Akbar S. Ahmed, bagi wanita modern zaman media adalah perangkap keindahan yang menggiurkan. Penampilan wajhnya harus anggun namun aktraktif, tubuhnya sintal, bibirnya sensual, langsing dan memiliki daya pikat seksual, pakaianya mutakhir.Wanita tidak boleh buruk nafas, berjerawat, apalagi bau badanya.Media terus-menerus mempropagandakan hal tersebut.
berbagai prodduk kecantikan dan model pakian bermunculan.heranya produk-produk itu bukan sekedar produk biasa, tetapi juga membawa kesan-kesan tersendiri. Misalnya jika memakai bedak’A’, seseorang dikesankan sebagai remaj gaul, moderndan akn dikejar-kejar laki-laki. Lipstick ‘B’, yang dalam iklan memakai model seorang ratu dunia, dikesankan sebagai gaya hidup selebritis dunia, memakai produk tersebut berarti mengikuti jejak sang ratu tersebut.
Era modern juga selalu menggembar-gemborkan pentingya penampilan tubuh yang langsing, sintal dan sehat.Televisi, tabloid dan majalah setiap hari mengiklankan produk-produk berteknologi canggih untuk melangsingkan tubuh, menghilangkan jerawat, menghancurkan lemak dan lain-lain.
Budaya modernisasi melahirkan remaja-remaja yang doyan pamer aurat. Di jalan-jalan mereka sudah tidak rishi lagi dengan pakaian yang ketat dan nyaris terbuka atau rok mini dengan kaos you can see serta jeans bolong dan ketat.dandanan wajah dan potongan rambut yang tidak karuan. Lebih menghawatirkan dari semua itu ialah budaya hidup bersama (free sex) yang tercermin dari bebasnya mereka bergal dan bergerombol dengan lawan jenis.
Sementara itu remaja muslim saat ini tak lebih dari korban keganasan modernisasi. Mereka terimbas dengan mode pakaian yang lahir dari budaya non islam. Akibatnya muncul kesan bahwa yang baik dan benar adalah apa yang datang dari Barat. Tak heran jika merebaknya remaja mengunakan kerudung namun pakaian dan celananya ketat, hal ini sulit ditanggulangi karna remaja sudah terbelenggu iming-.iming gaya selebritis dari dunia entertaimen.
Media global telah membentuk pola piker masyarakat menjadi instan.Mereka terus-menerus diberi mimpi, harus ini dan itu. Segala produk dicoba dengan harapan mimpinya tercapai yaitu ingin terlihat gaul dan seperti selebritis idolanya. Padahal jika mau jujur mungkin mereka hanya pura-pura memberikan tips-tips kesempurnaan tubuh, yang hakikatnya hanya bisnis semata. (Abu Al-Ghifari,2006:26-28).

 III.      Penutup
Dari uraian di atas dapat disimpulkan beberapa hal antara lain:
1.      Media masa sangat bisa menjadi kawan dan lawan.
2.      Media bagaikan pedang bermata dua (terdapat negative positif).
3.   Media massa sangat berperan dalam perkembangan atau bahkan perubahan pola tingkah laku dari suatu masyarakat


DAFTAR PUSTAKA

Abu Al-Ghifar, Kudung Gaul berjilbab tapi telanjang, Mujahid press, Bandun, 2006.

Ngainun Naim, Dasar-dasar Komunikasi Pendidikan, Ar-Ruzz Media, Jogjakarta, 2011.

Ali Rifan dkk, Indonesia Hari Esok, Obsesi Pers, purwokerto, 2012.

Wahya Aditya,Sila Ke EnamKreatif Sampai Mati, Bentang Pustaka, Yogyakarta,2013.

Onong Uchjana, Ilmu Komunikasi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2011.








Artikel Terkait

Previous
Next Post »

komentar anda sangat berguna bagi perkembangan blog kami EmoticonEmoticon

Subscribe