MEDIA SEBAGAI PEMBELAJARAN

00.55.00 0
MAKALAH
MEDIA  SEBAGAI PEMBELAJARAN

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Peningkatan kualitas pembelajaran merupakan salah satu dasar peningkatan pendidikansecara keseluruhan. Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi bagian terpadu dari upaya peningkatan kualitas manusia, baik aspek kemampuan, kepribadian, maupun tanggung jawabsebagai warga masyarakat.Mutu pendidikan sangat tergantung kepada kualitas guru dan pembelajarannya, sehingga peningkatan pembelajaran merupakan isu mendasar bagi peningkatan mutu pendidikan secararasional.Perkembangan media pembelajaran mengikuti arus perkembangan teknologi. Teknologi paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah system percetakan yang bekerja atasdasar fisik mekanik. Kemudian lahir teknologi audio visual yang menggabungkan penemuanmekanik dan elektronik untuk tujuan pembelajaran. Teknologi yang muncul terakhir adalahteknologi micro-processor yang melahirkan pemakaian computer dan kegiatan interktif.
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Media Audio-Visual
Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsur gambar. jenismedia ini mempunyai kemampuan yang lebih baik karena meliputi suara dan gambar.[1]
Media audio-visual merupakan media yang digunakan untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Dalam media audio visual terdapat dua unsur yang saling bersatu yaitu audio danvisual. Adanya unsur audio memungkinkan siswa untuk dapat menerima pesan pembelajaran melalui pendengaran, sedangkan unsur visual memungkinkan penciptakan pesan belajar melalui bentuk visualisasi.
B.     Karakteristik dan Jenis-Jenis Media Audio-Visual
Karakteristik media audio-visual adalah memiliki unsur suara dan unsur gambar. Alat-alataudio visual merupakan alat-alat “audible” artinya dapat didengar dan alat-alat yang “visible”artinya dapat dilihat.[2]
Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputidua jenis media yaitu media audio dan visual.Dilihat dari segi keadaannya, media audiovisual dibagi menjadi dua yaitu audio-visualmurni dan audio-visual tidak murni.Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:
1.      Audio-Visual Murni
Audio-visual murni atau sering disebut dengan audio-visual gerak yaitu media yang dapatmenampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak, unsur suara maupun unsur gambar tersebut berasal dari suatu sumber.
a.      Film Bersuara
Film bersuara ada berbagai macam jenis, ada yang digunakan untuk hiburan seperti filmkomersial yang diputar di bioskop-bioskop. Akan tetapi, film bersuara yang dimaksud dalam pembahasan ini ialah film sebagai alat pembelajaran. Film merupakan media yang amat besar kemampuannya dalam membantu proses belajar mengajar. Film yang baik adalah film yangdapat memenuhi kebutuhan siswa sehubunga dengan apa yang dipelajari. Oemar Hamalik mengemukakan prinsip pokok yang berpegang kepada 4-R yaitu : “ The right film in the right place at the right time used in the right way”.[3]
Secara singkat apa yang telah dilihat pada sebuah film, vidio, ataupun televisi hendaknyadapat memberikan hasil yang nyata kepada siswa. Film yang baik memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a)   Sesuai dengan tema pembelajaran
b)   Dapat menarik minat siswa
c)   Benar dan autentik
d)  Up to date dalam setting, pakaian dan lingkungan
e)   Sesuai dengan tigkat kematangan siswa
f)    Perbendaharaan bahasa yang benar.[4]

a)      Rangkaian kegiatan sebelum pembuatan film
Sebelum membuat cerita film, kita harus menentukan tujuan pembuatan film. Hanya sebagai hiburan, mengangkat fenomena, pembelajaran/pendidikan, dokumenter, ataukah menyampaikan pesan moral tertentu. Hal ini sangat perlu agar pembuatan film lebih terfokus, terarah dan sesuai. Jika tujuan telah ditentukan maka semua detail cerita dan pembuatan film akan terlihat dan lebih mudah. Jika perlu diadakan observasi dan pengumpulan data dan faktanya. Bisa dengan membaca buku, artikel atau bertanya langsung kepada sumbernya. Ide film dapat diperoleh dari berbagai macam sumber antara lain: Pengalaman pribadi penulis yang
menghebohkan. Percakapan atau aktifitas sehari-hari yang menarik untuk difilmkan. Cerita rakyat atau dongeng. Biografi seorang terkenal atau berjasa. Adaptasi dari cerita di komik, cerpen, atau novel. Dari kajian musik, dll
b)      Teknik – teknik Pembuatan Film
Dalam pembuatan film-film Produksi film berjalan dalam tiga tahap:
                                i.         Pra-produksi—Persiapan perekaman dilakukan, yaitu ketika pemeran dan kru film dipekerjakan, lokasi dipilih, dan latar dibangun. Ini juga tahapan ketika ide film diciptakan, hak buku/naskah dibeli, dll.
                              ii.         Produksi—Elemen mentah untuk film akhir direkam.
                            iii.         Pasca-produksi—Film disuntingl; suara (dialog) produksi sekaligus disunting (namun terpisah), runut musik (dan lagu) digubah, dipentaskan dan direkam, jika film tersebut butuh musik; efek suara dirancang dan direkam; efek 'visual' grafis komputer lainnya ditambahkan secara digital, semua elemen suara dicampurkan menjadi 'stem', kemudian stem dicampurkan dan disejajarkan dengan gambar dan film tersebut akhirnya selesai ("terkunci").
c)      Perkembangan Film
Perkembangan film memiliki perjalanan cukup panjang hingga pada akhirnya menjadi seperti film di masa kini yang kaya dengan efek, dan sangat mudah didapatkan sebagai media hiburan. Perkembangan film dimulai ketika digunakannya alat kinetoskop temuan Thomas Alfa Edison yang pada masa itu digunakan oleh penonton individual. Film awal masih bisu dan tidak berwarna. Pemutaran film di bioskop untuk pertama kalinya dilakukan pada awal abad 20, hingga industri film Hollywood yang pertama kali, bahkan hingga saat ini merajai industri perfilman populer secara global. Pada tahun 1927 teknologi sudah cukup mumpuni untuk memproduksi film bicara yang dialognya dapat didengar secara langsung, namun masih hitam-putih. Hingga pada 1937 teknologi film sudah mampu memproduksi film berwarna yang lebih menarik dan diikuti dengan alur cerita yang mulai populer. Pada tahun1970-an, film sudah bisa direkam dalam jumlah massal dengan menggunakan videotape yang kemudian dijual. Tahun 1980-an ditemukan teknologi laser disc, lalu VCD dan kemudian menyusul teknologi DVD. Hingga saat ini digital movie yang lebih praktis banyak digemari sehingga semakin menjadikan popularitas film meningkat dan film menjadi semakin dekat dengan keserarian masyarakat modern.

b.      Video
a)      Pengertian
Video sebagai media audio-visual yang menampilkan gerak, semakin lama semakin populer dalam masyarakat kita. Pesan yang disajikan bisa bersifat fakta maupun fiktif, bisa bersifat informative, edukatif maupun instruksional. Sebagian besar tugas film dapat digantikanoleh video. Tapi tidak berarti bahwa video akan menggantikan kedudukan film. Media videomerupakan salah satu jenis media audio visual, selain film yang banyak dikembangkan untuk keperluan pembelajaran
Video Pembelajaran Dalam kamus bahasa indonesia, video adalah teknologi pengiriman sinyal elektronik dari suatu gambar bergerak. Aplikasi umum dari sinyal video adalah televisi, tetapi dia dapat juga digunakan dalam aplikasi lain di dalam bidang teknik, saintifik, produksi dan keamanan. Kata video berasal dari kata Latin.  Istilah video juga digunakan sebagai singkatan dari videotape, dan juga perekam video serta pemutar video . Menurut Mohd. Arif dan Rosnaini, video merupakan alat untuk merekamkan dan menayangkan film dengan menggunakan pita video (disalurkan melalui televisi).Pita rekaman diartikan sebagai pita bermagnet yang digunakan untuk merekam gambar dan suara dari televisi. Sedangkan film video adalah film yang telah direkam pada vita video dan hanya sesuai ditayangkan dengan menggunakan alat video. Sedangkan pembelajaran merupakan proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Gabungan dari kedua pengertian tersebut dapat di dimpulkan bahwa video pembelajaran merupakan Teknologi pengiriman sinyal elektronik dari suatu gambar bergerak yang dipakai dalam proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Video sebagai salah satu media dalam pengajaran dan pembelajaran yang dapat membantu para guru mengetahui satu pendekatan baru yang bisa digunakan untuk menarik minat belajar.Oleh karena itu sedikit banyak video merupakan salah satu alternatif dalam mengatasi kemerosotan pelajaran dan pembelajaran
b)      Karakteristik Video
Karakteristik lain dari media video atau film dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran, di antaranya adalah:
·         Mengatasi jarak dan waktu Sifat utama video adalah kemampuannya memanipulasi perspektif ruang dan waktu. Manipulasi ruang dan waktu tidak hanya memberikan hasil yang dramatis dan kreatif, tetapi juga memiliki implikasi bagi pembelajaran.Video memungkinkan kita menambah dan mengurangi waktu-waktu untuk pengamatan. Misal menampilkan proses cepat perubahan ulat jadi kupu kupu. Atau memperlambat proses dengan teknik slow motion, misalnya saat bunglon menangkap serangga.
·         Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masalalu secara realistis dalam waktu yang singkat. Maksudnya video dapat merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau obyek.
·         Dapat membawa siswa berpetualang dari negara satu ke negara lainnya, dan dari masa yang satu kemasa yang lain.
·         Dapat diulang-ulang bila perlu untuk menambah kejelasan Video memungkinkan kita menampilkan fenomena mikrokosmos dan makrokosmos. Siswa bisa melihat bagian bagian sel dan juga bias melihat planet tata surya.
·         Menumbuhkan minat dan motivasi belajar.
·         Sangat kuat mempengaruhi emosi seseorang ( peserta didik).
·         Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat.
·         Megembangkan pikiran, imajinasi dan pendapat para siswa.
·         Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan penjelasan yang lebih realistis.
·         Berperan sebagai media utama untuk mendokumentasikan realitas sosial yang akan dibedah di dalam kelas. yang menggambarkan kemampuan media mentransportasikan obyek atau kejadian melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian itu disajikan kepada sejumlah besar siswa, di berbagai tempat, dengan stimulus pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian tersebut.
·         Sangat baik menjelaskan suatu proses dan ketrampilan, mampu menunjukkan rangsangan yang sesuai dengan tujuan dan respon yang diharapkan dari peseta didik.
·         Mampu berperan sebagai storyteller yang dapat memancing kreativitas peserta didik dalam mengekspresikan gagasannya.
c)      Manfaat Video
Manfaat video sebagai Media Pembelajaran Secara umum manfaat media pembelajaran adalah memperlancar interaksi antara gurudengan siswa sehingga kegiatan pembelajaran lebih efektif dan efisien. Sedangkan secara lebih khusus manfaat media pembelajaran adalah:
·         Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan Dengan bantuan media pembelajaran, penafsiran yang berbeda antar guru dapat dihindari dan dapat mengurangi terjadinya kesenjangan informasi diantara siswa dimanapun berada.
·         Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik Media dapat menampilkan informasi melalui suara, gambar, gerakan dan warna, baiksecara alami maupun manipulasi, sehingga membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton dan tidak membosankan.
·         Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif Dengan media akan terjadinya komukasi dua arah secara aktif, sedangkan tanpa mediaguru cenderung bicara satu arah.
·         Efisiensi dalam waktu dan tenaga Dengan media tujuan belajar akan lebih mudah tercapai secara maksimal dengan waktudan tenaga seminimal mungkin. Guru tidak harus menjelaskan materi ajaran secara berulang ulang, sebab dengan sekali sajian menggunakan media, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran.
·         Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa Media pembelajaran dapat membantu siswa menyerap materi belajar lebih mendalamdan utuh. Bila dengan mendengar informasi verbal dari guru saja, siswa kurangmemahami pelajaran, tetapi jika diperkaya dengan kegiatan melihat, menyentuh, merasakan dan mengalami sendiri melalui media pemahaman siswa akan lebih baik.
·         Media memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja Media pembelajaran dapat dirangsang sedemikian rupa sehingga siswa dapat melakukan kegiatan belajar dengan lebih leluasa dimanapun dan kapanpun tanpa tergantung seorang guru.Perlu kita sadari waktu belajar di sekolah sangat terbatas dan waktuterbanyak justru di luar lingkungan sekolah.
·         Media dapat menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses belajar Proses pembelajaran menjadi lebih menarik sehingga mendorong siswa untuk mencintai ilmu pengetahuan dan gemar mencari sendiri sumber-sumber ilmu pengetahuan.
·         Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif Guru dapat berbagi peran dengan media sehingga banyak memiliki waktu untuk memberi perhatian pada aspek- aspek edukatif lainnya, seperti membantu kesulita belajar siswa, pembentukan kepribadian, memotivasi belajar, dan lain-lain
d)     Langkah – langkah pembuatan Video
Jika kita membuat secara profesional dengan melibatkan banyak pihak (misalnya penyusun naskah, aktor, pengambil gambar, editor dll) maka langkahnya cukup panjang, di antaranya adalah perencanaan kegiatan, penyusunan naskah/skenario, pengambilan gambar, penyuntingan (editing) dan launching. Untuk penyusunan naskah video pembelajaran sendiri diperlukan juga penilai ahli, sehingga naskah sudah sesuai dengan substansi pembelajaran dan baru masuk proses berikutnya.
Namun, bagi guru-guru yang ingin membuat video pembelajaran sendiri (tanpa banyak melibatkan orang lain) dapat menggunakan teknik screencast, yaitu teknik merekam aktifitas di layar komputer beserta narasinya sehingga menjadi sebuah video tutorial. Cara ini jauh lebih mudah dan murah karena tidak perlu melibatkan banyak orang, bahkan tidak perlu menggunakan kamera. Guru dapat melakukan simulasi pembelajaran, misalnya menjalankan presentasi PowerPoint disertai suara narasi sehingga menghasilkan video pembelajaran, khususnya tutorial. 
e)      Perkembangan Video
Video adalah salah satu temuan terbesar manusia, dimulai dari ditemukannya fotografi yang menampilkan citra atau image diam yang identik dengan aslinya kemudian berkembang dengan menampilkan citra bergerak (motion picture). Perkembangan ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi yang kemudian mampu menggabungkan unsur gambar bergerak tadi dengan unsur suara. Lalu disebut sebagai video, yakni gabungan yang harmonis atau sinkron antara visual (gambar bergerak) dengan audio (suara). Berikut lebih rinci mengenai sejarah dan perkembangan video.
·      Ditemukannya kamera fotografi Keberadaan kamera video sangat berkaitan dengan terlebih dahulu ditemukannya fotografi dan film seluloid. Konsep photos dan graphos atau merekam gambar melalui cahaya dimulai dengan ditemukannya camera pinhole sekitar abad ke-16 hingga 17, yaitu alat berupa kotak yang terbuat dari papan kayu dan salah satu dinding kotak tersebut dilengkapi lensa obscure yaitu lubang kecil tepat ditengah- tengah. Gambar 1.1
·      Era film seluloid-mekanik (Film bisu) Hasil fotografi adalah citra atau ilusi satu gambar tetap (still picture) sehingga tidak menghasilkan ilusi atau kesan gerakan. Perkembangan fotografi ini terus didorong dengan dirintisnya penciptaan film (motion picture) oleh Thomas Alva Edison dengan diciptakannya kinetiscope. Kemudian penemuan ini dikembangkan oleh Lumiere bersaudara pada 28 desember 1894 dengan dibuatnya cinematographe, yakni piranti yang mengkombinasikan kamera sebagai alat untuk memproses film dengan proyektor menjadi satu

c.       Televisi
Selain film dan video, televisi adalah media yang menyampaikan pesan-pesan pembelajaran secara audio-visual dengan disertai unsur gerak.
Televisi adalah alat komunikasi massa yang digunakan dalam proses komunikasi dengan ciri-ciri berlangsung satu arah, komunikator melembaga, pesan bersifat umum, sasarannya menimbulkan keserempakan dengan komunikan yang heterogen . Televisi merupakan media elektronik yang paling sempurna dan mempunyai efek yang paling besar terhadap khalayak dibanding dengan media elektronik lainnya seperti radio, karena televisi merupakan media audiovisual yang bersifat informatif, hiburan, pendidikan, dan juga alat kontrol sosial.
Dengan kesempurnaan teknologi media televisi, televisi mampu menjadi media penyiaran yang paling diminati dan digunakan oleh masyarakat luas pada saat ini dibanding dengan media lainnya seperti radio, majalah, koran, dan media lainnya.
Televisi merupakan suatu media elektronik. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa televisi pada saat ini merupakan salah satu sarana media yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Karena dari media televisi orang atau masyarakat mendapatkan sebagian dari kebutuhan hidupnya yaitu, informasi, hiburan, pengetahuan, pendidikan dan lain sebagainya. Ellen Wartela dan Byron Reeves, memandang televisi sebagai sesuatu yang unik, keunikan itu bukan saja dari isi pesan yang ada dalam televisi, yang sangat menghibur pemirsanya dan amat sangat menyenangkan hati audiensnya, tapi juga dari segi visualisasinya, pergerakkan kamera teknik mengedit .
a)      Karakteristik Televisi
            Setiap jenis media massa memiliki karakteristik baik secara fisik maupun dampa yang diakibatkanya. Karena penelitian yang dilakukan adalah dari media massa televisi, maka pentingnya untuk memahami televisi secara fisik, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
·      Media televisi adalah media elektronik Medium televisi bekerja secara elektris.
        Bermula dari sinar yang dikenakan pada objek/benda, terbentuklah sinar panul. Sinar pantul dilewatkan dengan system lensa sehingga terbentuklah gambar proyeksi (gejala sinar) di ubah menjadi signal listrik/ gelombang elektromagnetik (gejala listrik) melalui pendekatan photo elektrik cell.
·      Media televisi adalah media audio visual gerak
        Media televisi mengutamakan setiap gambar yang disajikan di pilih yang mengandung unsur gerak.
·      Media televisi adalah media transitor
        Media televisi hanya meneruskan isi pesan yang berarti isi pesan yang berarti isi pesan hanya didengar atau di lihat sekilas, maka penyusun naskah untuk karya jurnalistik harus tepat.
·      Media televisi adalah media non rinci
        Media televisi tidak dapat menyajikan sisi pesan secara rinci karena sifat pesan/informasi televisi hanya lewat begitu saja (transitory). Itulah sebabnya medium televisi tidak menguasai waktu tetapi menguasai ruang, oleh karena itu berita televisi disajikan sangat ringkas tiap berita.
·      Media televisi adalah ukuran ratio layer 4:3
        Gambar yang mengandung unsur gerak atau lebih menarik ditonton dalam layar televisi relatif kecil (ukuran 4:3).
·      Media televisi adalah media pandang dengar
        Media televisi menyajikan informasi dalam bentuk audio visual secara sinkron.
·      Media televisi adalah media personal (close up media)
        Visual yang diliput sangat mengutamakan gambar-gambar clouse up (jarak dekat) karna ukuran layar televisi relatif kecil.
·      Media televisi adalah incorporate media
        Media yang dapat untuk menyajikan media lain (slide, fotografik dan lain-lain) .
b)      Manfaat Televisi
·      Sebagai media penerangan
·      Sebagai media pendidikan
·      Sebagai media hiburan
·      Sebagai media promosi .
c)      Televisi Sebagai Media PJJ (pembelajaran jarak jauh)
     Telah banyak ahli yang membahas mengenai pengertian dan karakteristik pendidikan jarak jauh diantaranya Keegan (1984), Holmberg (1977), dan Moore (1973). Walaupun agak sulit untuk mendapatkan satu definisi yang diterima oleh semua pakar pendidikan jarak jauh, namun karakteristik pendidikan jarak jauh yang dikemukakan oleh Keegan (1984) dapat dipakai sebagai acuan dasar untuk pembahasan dalam artikel ini. Berikut ini adalah karakteristik pendidikan jarak jauh yang dikemukakan oleh Keegan.
·            ada keterpisahan yang mendekati permanen antara tenaga pengajar (guru atau dosen) dari peserta ajar (siswa atau mahasiswa) selama program pendidikan
·            ada keterpisahan yang mendekati permanen antara seorang peserta ajar (siswa atau mahasiswa) dari peserta ajar lain selama program pendidikan
·            ada suatu institusi yang mengelola program pendidikannya
·            pemanfaatan sarana komunikasi baik mekanis maupun elektronis untuk menyampaikan bahan ajar
·            penyediaan sarana komunikasi dua arah sehingga peserta ajar dapat mengambil inisiatif dialog dan mengambil manfaatnya.
Jadi dari uraian karakteristik pendidikan jarak jauh di atas dapat disimpulkan bahwa keterpisahan kegiatan pengajaran dari kegiatan belajar adalah ciri yang khas dari pendidikan jarak jauh. Identifikasi ciri khas pendidikan jauh seperti di atas sejalan dengan apa yang dikemukakan Moore (1973) bahwa pendidikan jarak jauh adalah sekumpulan metoda pengajaran dimana aktivitas pengajaran dilaksanakan secara terpisah dari aktivitas belajar. Pemisah kedua kegiatan tersebut dapat berupa jarak fisik, misalnya karena peserta ajar bertempat tinggal jauh dari lokasi institusi pendidikan. Pemisah dapat pula jarak non-fisik yaitu berupa keadaan yang memaksa seseorang yang tempat tinggalnya dekat dari lokasi institusi pendidikan namun tidak dapat mengikuti kegiatan pembelajaran di institusi tersebut. Keadaan seperti ini terjadi misalnya karena pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan.

2.      Audio-Visual tidak murni
Audio Visual tidak murni yaitu media yang unsur suara dan gambarnya berasal darisumber yang berbeda.[5]Audio-visual tidak murni ini sering disebut juga dengan audio-visualdiamplussuara yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti:
1)      Sound slide (Film bingkai suara)
Slide atau filmstrip yang ditambah dengan suara bukan alat audio-visual yang lengkap,karena suara dan rupa berada terpisah, oleh sebab itu slide atau filmstrip termasuk media audio-visual saja atau media visual diam plus suara. Gabungan slide (film bingkai) dengan tape audioadalah jenis system multimedia yang paling mudah diproduksi.[6]
Media pembelajaran gabungan slide dan tape dapat digunakan pada berbagai lokasi danuntuk berbagai tujuan pembelajaran yang melibatkan gambar-gambar guna menginformasikanatau mendorong lahirnya respon emosional. Slide bersuara merupakan suatu inovasi dalam pembelajaran yang dapat digunakan sebagai media pembelajaran dan efektif membantu siswadalam memahami konsep yang abstrak menjadi lebih konkrit. Dengan menggunakan slide bersuara sebagai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat menyebabkansemakin banyak indra siswa yang terlibat ( visual, audio). Dengan semakin banyaknya indrayang terlibat maka siswa lebih mudah memahami suatu konsep. Slide bersuara dapat dibuatdengan menggunakan gabungan dari berbagai aplikasi komputer seperti: power point, camtasia,dan windows movie maker.
C.       Penggunaan Audio-Visual dalam Pembelajaran
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan audio-visual untuk  pembelajaran yaitu:
a.    Guru harus mempersiapkan unit pelajaran terlebih dahulu, kemudian baru memilih media audio-visual yang tepat untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
b.   Guru juga harus mengetahui durasi media audio-visual misalnya dalam bentuk film ataupunvideo, dimana keduanya yang harus disesuaikan dengan jam pelajaran
c.    Mempersiapkan kelas, yang meliputi persiapan siswa dengan memberikan penjelasan globaltentang isi film, video atau televisi yang akan diputar dan persiapan peralatan yang akandigunakan demi kelancaran pembelajaran
d.   Aktivitas lanjutan, setelah pemutaran film atau video selesai, sebaiknya guru melakukan refleksidan tanya jawab dengan siswa untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materitersebut.[7]

D.    Contoh Pemanfaatan Audio Visual
Secara umum, semua mata pelajaran akan lebih efektif jika diajarkan dengan media yangsesuai. Oleh karena itu, guru harus mengetahui terlebih dahulu materi dan tujuan pembelajaran.Audio-visual merupakan salah satu cara untuk membuat pembelajaran lebih dinamis danmenyenangkan. Adapun bahan ajar yang cocok untuk dikembangkan dengan audio-visual,khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
a.       Ranah Kognitif 
Materi Al-Qur’an hadits, misalnya dalam menerangkan tajwid. Dulu sebelum teknologi berkembang, tajwid diajarkan hanya secara verbalistis, atau dengan menggunakan lingkarantajwid. Akan tetapi dizaman sekarang bisa dikembangkan dengan menggunakan media interaktif dengan mikromedia flash, windows movie maker, dsb.[8]
b.      Ranah Afektif
Materi aqidah untuk menjelaskan tentang rukun iman maupun rukun islam. Materi akhlaquntuk menjelaskan tentang keteladanan bisa dikembangkan dengan memutar film atau video.
Materi sejarah kebudayaan islam yang bersifat pengetahuan, akan lebih menarik jikadikembangkan dengan menggunakan media seperti sound slide, sehingga memungkinkan siswayang kurang dapat menerima pelajaran dengan hanya menggunakan indra pendengar, mampulebih memahami dengan adanya kombinasi gambar dan suara.
c.       Ranah Psikomotor
Materi fiqh, dimana materi ini banyak yang berbentuk prosedural yang dirasa cocok untuk dikembangkan dengan media audio-visual, misalnya:
1)   Ketika menjelaskan tentang tata cara shalat
2)   Ketika menjelaskan tentang tata cara haji
3)   Ketika menjelaskan tentang tata cara berkurban
Ketiganya akan lebih menarik ketika dikembangkan dengan media audio-visual, misalnyadengan menggunakan film, video, mikromedia flash ataupun windows movie maker.
E.     Kelebihan dan Kelemahan Media Audio-Visual.
Beberapa Kelebihan atau kegunaan media audio-visual pembelajaran yaitu:
1.      Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis (dalam bentuk kata-kata, tertulis atau lisan belaka)
2.      Mengatasi perbatasan ruang, waktu dan daya indera, seperti:
·            Objek yang terlalu besar digantikan dengan realitas, gambar, filmbingkai, film atau video
·            Obyek yang kecil dibantu dengan proyektor micro, film bingkai, film atau gambar 
·            Gerak yang terlalu lambat atau terlalu cepat dapat dibantu dengan tame line atau high speed photografi
·            Kejadian atau peristiwa yang terjadi masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat rekaman film,video,film bingkai, foto maupun secara verbal
·            Konsep yang terlalu luas (gunung ber api, gempa bumi, iklim dll) dapat di visualkan dalam bentuk film,film bingkai, gambar,dll.
Pengajaran audio-visual juga mempunyai beberapa kelemahan yaitu :
1.      Media audio-visual tidak dapat digunakan dimana saja dan kapan saja, karena mediaaudio-visual cenderung tetap di tempat.
2.      Biaya pengadaannya relative mahal
3.      Apabila guru tidak mampu berpartisipasi aktif maka siswa akan cenderung menikmati visualisasi dan suaranya 



PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa Media Audio-Visual adalah media yangmempunyai unsur suara dan unsur gambar. Jenis Media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yaitu Media Audio dan Media Visual.
Dilihat dari segi keadaannya, media audiovisual dibagi menjadi :
·         Audiovisual Murni yaitu unsur suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber.
·         Audiovisual tidak murni yaitu unsur suara dan gambarnya berasal dari sumber yang berbeda.
Setiap media pembelajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan yang antaralain,memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalistis dan kelemahan padamedia audio visual adalah terlalu menekankan pada penguasaan materi dari pada proses pengembangannya.
B.     Saran
Sebagai seorang calon guru hendaknya kita mengetahui media – media yang dapatmeningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu materi yang akan kita sampaikan, salah satunyaadalah media audio visual. Diharapkan Kita juga tidak hanya mengetahuinya tapi kita juga harus bisa memanfaatkannya dengan baik dan tepat guna.


DAFTAR PUSTAKA

Amir Hamzah. 1985. Media Audio-Visual Untuk Pengajaran, Penerangan dan Penyuluhan.PT Gramedia : Jakarta.

Anderson, Ronald.H. 1994.Pemilihan dan Pengembangan media Video Pembelajaran

Arsyad, Azhar. 2007. Media Pembelajaran. Raja Grofindo Persada : Jakarta

Usman, M. Basyirudin dan Asnawir. 2002.Media pembelajaran. Ciputat Pers : Jakarta.








[1]Syeful bahri,Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar (Jakarta:Rineka Cipta,2002), hal 141
[2]Amir Hamzah Suleiman, Media Audio-Visual untuk Pengajaran, penerangan, dan penyuluhan(Jakarta: PTGramedia, 1985), hal,11

[3]M. Basyirudin Usman dan Asnawir, Media pembelajaran (Jakarta: Ciputat Pers, 2002), hal,96
[4]Ibid, hal 98

[5]Syeful bahri,Op. Cit ,  hal 141
[6]Azhar Arsyad,Media Pembelajaran(Jakarta; PT Raja Grafindo Persada, 2003), hal 155
[7]M. Basyirudin Usman dan Asnawir,Op.Cit.hal, 97-98
[8]Azhar Arsyad,Op.Cit. hal,61-65




contoh resensi buku menyusun penelitian tindakan kelas

00.51.00 0
RESENSI BUKU
MENYUSUN PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Disusun Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Bimbingan Konseling
Disusun Oleh :
M. Ihsan Alamin
(201 207 010 13828)

Dosen Pembimbing : Dr. Rofiatul Hosna, M. Pd

FAKULTAS  TARBIYAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS HASYIM ASY’ARI

TEBUIRENG - JOMBANG

2014
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat, hidayah, dan karunianya sehingga tugas meresensi buku yang berjudul “Menyusun Penelitian Tindakan Kelas” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Tidak lupa pula saya sebagaimengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi dalam upaya penyelesaian tugas ini.
Saya sangat berharap bahwa tugas meresensi buku yang saya buat ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang telah membaca tugas saya ini pada umumnya dan bermanfaaat untuk pembelajaran yang lebih baik lagi bagi saya pribadi pada khususnya.
Namun demikian, dalam penyusunan tugas meresensi buku yang berjudul “Menyusun Penelitian Tindakan Kelas” ini saya menyadari bahwa tidak menutup kemungkinan dalam tugas ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangannya, untuk itu saya mengharapkan masukan dan saran dari pihak-pihak yang telah meneliti tugas saya  ini demi keberhasilan yang lebih baik lagi untuk waktu yang akan datang. Karena saya menyadari bahwa segala kekurangan itu datangnya dari kita sendiri sebagai manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan jika terdapat kelebihan, semua itu tentu karena kehendak Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb








DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL............................................................................       i
KATA PENGANTAR..........................................................................       ii
DAFTAR ISI.........................................................................................      iii

BAB   1 IDENTITAS BUKU.........................................................................................        1
BAB   II SUBSTANSI / ISI BUKU...............................................................................        2
A.    Hakikat Dan Jenis-Jenis Penelitian..............................................................        2
B.     Keuntungan Melakukan Penelitian Tindakan Kelas....................................        3
C.     Modal Dasar Menjadi Peneliti.....................................................................        3
D.    Langkah-Langkah Strategi Menyusun Penelitian Tindakan Kelas..............        3
E.     Panduan Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas........................................        3
F.      Contoh Hasil Penelitian Tindakan Kelas.....................................................        4
BAB  III PROBLEM / PERMASALAHAN................................................................        5
A.  Kelebihan Buku ..........................................................................................        5
B.  Kelemahan Buku .........................................................................................        5
BAB 1V SOLFING / PEMECAHANNYA..................................................................        6
BAB   VPENUTUP ........................................................................................................        7
A.  Kesimpulan .................................................................................................        7
B.  Saran ...........................................................................................................        7

BAB 1
IDENTITAS BUKU
Judul Buku            : Menyusun Penelitian Tindakan Kelas
Nama Penulis        : Acep Yoni, S.S, dkk
Tebal Buku            : 228 Halaman
Nama Penerbit      : Qoni
Kota Penerbit        : Yogyakarta















BAB II
SUBSTANSI / ISI BUKU
Penelitian masih berupa menara gading. Semua guru mengakui pentingnya aktivitas penelitian, tetapi tidak setiap gutu mau melakukannya, Aktivitas penelitian masih dipandang sebagai kegiatan yang nomor sekian. Pada kenyataannya, tanpa penelitian pun kegiatan belajar mengajar dapat berlansung dengan baik.
Cara pandang di atas tentu tidak sepenuhnya salah. Penelitian belum menjadi prioritas utama. Pihak sekolah pun tampaknya masih jarang yang memasukkan penelitian dalam sekala prioritas rencana program kerjanya. Hal ini boleh jadi karena belum memahami benar hakikat penelitian.
            Buku berjudul MENYUSUN PENELITIAN TINDAKAN KELAS ini berisikan tentang penelitian. Aspek yang dibahas antara lain meliputi hakikat penelitian dan keuntungan penelitian
A.  Hakikat Dan Jenis-Jenis Penelitian
Beberapa karakteristi penelitian yang perlu diketahui
1.        Penelitian dirancang untuk memecahkan masalah
2.        Penelitian dilakukan atas dasar masalah atau objek yang dapat di observasikan
3.        Penelitian memerlukan observasi dan data-data yang akurat
4.        Peneliti menuntut kesabaran ketelitian dan kecermatan.

Jenis-jenis penelitian
            Penelitian terus berkembang pesat. Beragam macam penelitian telah dikembangkan dan untuk mengikhtisarkan berbagai penelitian tersebut telah diusulkan pula berbagai macam penggolongannya.
tujuh macam jenis penelitian
1.        Penelitian diskripsi
2.        Penelitian historis
3.        Penelitian korelasional
4.        Penelitian kausal komparatif
5.        Penelitian eksperimen
6.        Penelitian grounded
7.        Penelitian tindakan (action research)

B.  Keuntungan Melakukan Penelitian Tindakan kelas
Secara naluriah sebenarnya seorang guru sangat peduli akan perkembangan anak didiknya. Dalam bentuk yang sangat sederhana guru melakukan pengamatan dan senantiasa memberikan dorongan serta stimulasi agar mereka mengoptimalkan potensinya.
C.  Modal dasar Menjadi Peneliti
1.      Jujur
2.      Objektif
3.      Berpengetahuan
4.      Cermat
5.      Mampu menulis

D.    Langkah-Langkah Strategi Menyusun Penelitian Tindakan Kelas
1.      Carilah akar masalah atau latar belakang masala.
2.      Membuat tim
3.      Formulasikan masalah
4.      Menentukan judul penelitian
5.      Membuat hipotensis
6.      Mempersiapkan data
7.      Menentukan jadwal penelitian
8.      Merencanakan anggaran biaya penelitian
9.      Menyusun proposal penelitian
10.  Melakukan penelitian tindakan kelas
11.  Memublikasikan penelitian
E.     Panduan Penyusunan Penelitian Tindakan Kelas
1.      Buatlah daftar isi
2.      Susunan bagian perbagian bab per bab sebagaimana yang tercantum dalam daftar isi
3.      Poeriksa kembali ejaan, kalimat, tanda baca, lembar observasi, dan data-data anda pastikan semua dikerjakan cermat sebelu di ujikan

F.     Contoh Hasil Penelitian Tindakan Kelas
Upaya meninkatkan keaktifan dan prestasi belajar matematika melalui model pembelajaran kooperratif tipe tai siswa kelas VIIdi smp islam terpadu abu bakar yogyakarta tahun ajaran 2009/2010
.






















BAB III
PROBLEM / PERMASALAHAN
Dalam meresensi buku, tentulah kita harus menilai buku dari kelemahan / kekurangan dan kelebihan buku tersebut. Jadi pada intinya problem / permasalahan yang terdapat di dalam sebuah buku pasti adalah penilaian tentang kekurangan buku tersebut. Setiap buku sudah pasti mempunyai banyak kelebihan. Jadi dalam hal ini akan di  uraikan kekurangan dan kelebihan buku yang berjudul Menyusun Penelitian Tindakan Kelas

A.  Kelebihan Buku
Buku Menyusun Penelitian Tindakan Kelas ini disusun dengan bentuk buku yang tidak terlalu tebal namun isi dari buku ini menjelaskan tentang pembahasan yang lengkap dan judulnyapun menarik pembaca bagi mereka – mereka yang kuliah mengambil jurusan guru, karena bisa untuk menjadi bekal dalam menjadi seorang guru nantinya dalam proses belajar mengajar yang baik, dan untuk menjadi guru yang bukan hanya berperan sebagai pengajar yang hanya mentransformasikan ilmu saja kepada peserta didik, melainkan agar guru itu sebagai pendidik, yang bukan hanya mentransformasikan ilmu saja kepada peserta didik tetapi juga berperan dalam menciptakan tingkah laku dan budi pekerti peserta didik yang baik, karena itu merupakan wujud realisasi dari istilah yang mengatakan bahwa “ Guru adalah orang tua kedua setelah orang tua yang sebenarnya (kandung) “

B.  Kekurangan / kelemahan Buku
Di dalm buku yang berjudul Menyusun Penelitian Tindakan Kelas ini banyak sekali menggunakan Bahasa  ilmiah yang maknanya sulit untuk dipahami bagi saya pribadi khususnya dan bagi pembaca buku ini yang termasuk orang – orang awam pada umumnya. Jadi perlu adanya pemahaman khusus dan mendalam untuk memahami kata – kata maupun kalimat yang ada dalam buku ini. Dalam buku ini juga terdapat halaman-halaman yang tidak sesuai dengan daftar isi, sehingga menyulitkan bagi pembaca. Disamping itu juga pembahasan per babnya terlalu singkat. Dengan demikian yang dapat memahami isi buku hanya orang – orang yang tingkat intelektualnya tinggi, sementara bagi pembaca yang awan agak susah untuk memahami lebih dalam.
BAB IV
SOLVING / PEMECAHANNYA
Solving / pemecahannya menurut saya yaitu dengan mencantumkan keterangan arti dari kata – kata yang sifatnya ilmiah dengan cara dimasukkan di dalam kurung agar bagi pembaca yang tidak tahu maksudnya bisa membaca artinya yang ada di dalam kurung tersebut.
Penyesuaian daftar isi dengan pembahasan juga perlu diteliti sebelum buku ini dicetak agar tidak ada kesalahan penulisan halamannya. Serta penyesuaian halaman juga harus diurutkan sebelum pencetakkan buku ini.
Pembahasan per-babnya sebaiknya dibahas secara lengkap, jadi pembaca yang termasuk orang awam juga bisa dengan mudah memahami isi dan maksud dari buku ini. Kalau di sini terlalu singkat sehingga penjabarannya kurang detail dan seolah-olah hanya ditujukan kepada pembaca yang mempunyai tingkat keintelektualan yang tinggi.
Memang dalam buku ini lebih ditekankan pada pembaca yang berprofesi sebagai pengajar, namun alangkah baiknya jika pembaca selain pengajarpun dapat memahaminya.












BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan

Penelitian terus berkembang pesat. Beragam macam penelitian telah dikembangkan dan untuk mengikhtisarkan berbagai penelitian tersebut telah diusulkan pula berbagai macam penggolongannya.
tujuh macam jenis penelitian
8.        Penelitian diskripsi
9.        Penelitian historis
10.    Penelitian korelasional
11.    Penelitian kausal komparatif
12.    Penelitian eksperimen
13.    Penelitian grounded
14.    Penelitian tindakan (action research)

B.       Saran

Setiap buku pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dan semuanya itu mendapatkan sorotan dari pembaca, terlebih kekurangan buku tersebut. Jadi dalam penyusunan dan penulisan buku sebaiknya harus benar-benar teliti dan dibuat semenarik mungkin sehingga pembaca merasa puas dengan buku yang kita buat. Karena dengan demikian dapat mengangkat citra sang penulis dan penyusun suatu buku. 



Tehnik Sederhana Penulisan Karya Ilmiah

00.48.00 0
Teknik Penulisan Karya Ilmiah (Makalah Dll)
Banyak ragam teknik penulisan karya ilmiah,  bahkan ada yang telah dibakukan di beberapa perguruan tinggi. Secara umum dalam teknik penuilisan karya ilmiah (makalah)  terdapat kesamaan dalam pola pengetikan, bahasa, ejaan (berdasarkan EYD) dan kutipan, font dll. Daripada banyak ngomong teori, lebih baik langsung keteori dan contohnya.
format
  1. Kita mulai dulu dari jenis kertas dan ukuran lebar nya.
kertas yang sering digunakan biasanya adalah   1. HVS 80gram. (biasanya kuarto 22 x 28 cm).  2. Kertas  A4
Dengan ketentuan jarak penulisan dari kiri: 4cm, kanan: 3cm, atas: 3cm dan bawah: 4cm atau default (standar)





Klik 2 kali pada kotak no 1, maka akan muncul gambar page stup. Lalu ganti ukuran margins.
Lalu klik pada no 2, ganti ukuran kertas dengan A4 atau lainya.
Setelah urusan dengan tuan kertas selesai baru kita mulai ke tehnik penulisan.

  1. Gunakan fontz Times New Roman dengan ukuran 12.
  2. Spasi antar baris mengunakan ukuran 1,5.
  3. Mencntumkan nomor halaman di bagian bawah, center
  4. Paragraf menjorok dengan jarak 1,5 dengan paragraf sebelumnya
  5. Tidak perlu dijilid dan tidak perlu diberi mika. Cukup distaples di sebah kiri. Sampul mencantumkan: judul, tugas akhir........, nama dan nim

Penulisan Kutipan
  1. Kutipan ditulis dengan Font ukuran 11 dengan sepasi 1,0.  Contoh:
Menurut Sukriadi Sambas: “kajian ontology keilmuan ilmu dakwah yaitu mencakup haikat/keapaan dakwah, hakikat ilmu dakwah itu dapat dirumuskan sebagai kumpulan pengetahuan yang berasal dari Allah dan kemudian dikumpulkan oleh umat Islam secara sistematis dan terorganisir yang membahas interaksi antar unsur dala sistem melaksanakan kewajiban dengan maksud mempengaruhi, pemahaman yang tepat mengenai kenyataan dakwah sehingga akan dapat diperoleh susunan ilmu yang bermanfaat bagi tugas pedakwah dan khalifah umat Islam”.

Penulisan Daftar Referensi/ daftar pustaka
Referensi dapat di cari dari buku, artikel, internet, dll.
  • Dari buku oleh 1 pengarang
Bambang Riyanto.1984. Dasar-dasar Pembelajaran Perusahaan. Edisi kedua. Yogyakarta: Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada.
  • Dari buku oleh dua pengarang
Cohen, Morris R, dan Ernest Nagel. 1993. An Introduction to Logic And Scientific Method. New York: Harcourt, Brace & Co.
  • Dari buku oleh tiga pengarang atau lebih
Sukanto, R., et al. 1980. Business Forecasting, Yogyakarta: Bagian Penerbitan Fakultas Ekonomi UGM.
  • Dari buku oleh pengarang yang sama
Van Home, James C. 1986. Financial Management and Policy, Ninth Edition, New Jersey: Prentice-HallInternational Editions.
             , 1990. Fundamentals of Financial Management, Sixth Edition, New Jersey: Prentice-Hall Inc.
  • Dari buku tanpa pengarang
Author’s Guide. 1975. Englewood Cliffs: Prentice-Hall.
Undang-Undang Ri No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Penerbit Handayani, 1992.
  • Buku oleh lembaga, pemerintah dan organisasi
R.I., Majelis muusyawarah Rakyat Sementara. 1996.  Hasil Sidang Umum ke IV Tahun 1996, Jakarta: Departemen Penerangan R.I.
  • Surat kabar
Artikel tanpa nama penulis
Kompas (Jakarta), 28 pebruari 1995

Artikel dengan judul dan nama penulis
Allen, Maury. “A Grwowing Union,” New York Post. March 20, 1998. P. 4.

Artikel dengn judul tanpa penulis
“Terpuruknya Dunia Bisnis Perbankan”, Jawa Pos, 30 September 1998. Hal. 3.
  • Jurnal, buletin, majalah dan penerbitan berkala
Irlan Soejonodan A.T. birowo. 1976. “Distribusi Pendapatan di Pedasaan Padi Sawah di Jawa Tengah”, Prisma, 1, Hal. 26-32

Snitzler, James R. 1958. “How Wholesalers Can Cut Delivery Costs”, Journal of Mrketing, 23: pp. 21-28
  • Hasil penelitian
Faisal Kasryno et al. 1981. Perkembangan Institusi Dan Pengaruhnya Terhadap Distribusi Pendapatan dan Penyerapan Tenaga Kerja: Studi Kasusd di Empat Desa di Jawa Barat, Bogor: Studi Dinamika Pedesaan.
  • Kertas kerja diskusi panel, seminar dan lokokarya
  1. Damiri. 1993. “Perbankan di Indonesia, suatu Tinjauan Era Deregulasi”, Makalah disampaikan pada Ceramah Deregulasi Perbankan di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya, Surabaya.
Tim Dosen STIE Perbanas Surabaya. 1994. “Upaya Pemerataan Pembangunan Melalui Sektor Monoter”, Makalah Pelengkap Seminar Perbankan, Surabaya.
  • Bahan tidak diterbitkan
“Perkrmbanagan Sektor Pertanian 1971/1972”. 1972. Jakarta: Departemen Pertanian. (Mimeographed)
  • Skripsi, tesis dan disertasi
Ida Triwahyuni. 1994. “Pentingnya Analisis Umur Piutang dalam Hubungannya dengan Pengemdalian Outstanding Freight di Divisi Feeder PT. Samudera Indonesia”, Skripsi Sarjana tak diterbitkan, STIE Perbanas Surabaya.
  • Artikel dalam ensiklopedia
Banta, Richard E., “New Harmony”, Encyclopedia Britania (1968 ed.), Vol, 26, p. 305
  • Wawancara
Burrows, Dr. Lewis. Personal Interview on Puerto Rican Workers in a New York City Hospital, Mt. Sinai Hospital, New York, N.Y., 3 Juni 1998.
  • Terjemahan dari pengarang lain
Klinchin, A.I. 1957. Mathematical Foundations of Information Theory, diterjemahkan oleh Silverman, R.A. dan Friedman, M.D. New York: Dover
  • Internet
Rujukan dari internet berupa karya individual
Donald, P., Harby, L. & Gray, W. 1998. A Study on Agricultural Area Online Journals, 1993-1997: The Proverty among the Rich, (Online), (http://journal.css.soton. Ac.uk/ Study.html, diakses 12 Juni 1998)
Rujukan dari internet berupa artikel dari jurnal
Hartono. 1999. Peningkatan Kinerja Buruh Perusahaan Melalui Reward System. Jurnal Manajemen, (Online), Jilid 7, No. 3, (http://www.malang.ac.id, diakses 10 Mei 2000).


 Tehnik Penulisan Footnote View on PDF
http://adf.ly/1ZaebE




LAFAZ TIDAK JELAS MENURUT HANAFIYAH

09.30.00 0
BAB II
PEMBAHASAN

A.       Lafaz yang tidak jelas maknanya menurut Hanafiyah
Dilihat dari segi ketidakjelasnya lafaz terhadap makna yang dihasilkan ulama hanafiyah membagi ketidakjelasan lafaz menjadi empat macam tingkatan, mulai lafaz yang sifatnya kurang jelas sampai lafaz yang tidak jelas, yaitu : Khafi, Musykill, Mujmal, dan Mutasyabih, berikut uraian keempat bentuk lafaz tersebut.
a)   Khafi
Secara bahasa Khafi diartikan tidak jelas atau tersembunyi, sedangkan menurut istilah, dikemukakan oleh Ad-Dabusi adalah suatu lafaz yang maknanya menjadi tidak jelas karena hal baru yang ada di luar lafaz itu sendiri,[1] sehingga arti dari lafaz tersebut perlu di pelajari lebih mendalam guna mendapatkan makna yang tepat. Lafaz khafi adalah tingkat yang paling rendah dari segi ketidakjelasan maksudnya. Lafaz khafi adalah lawan dari lafaz zhahir dari segi kejelasan maksud suatu lafaz[2]




[1] Prof. Dr. Rachmat Syafe’i, MA. 2007. Ilmu Ushul Fiqih untuk UIN, STAIN, PTAIS. Bandung: CV Pustaka Setia, hlm. 164
[2] Prof. Dr. Wahbah al-Zuhayli, 1995, Al-Wajiz fii Ushuulil Fiqh, Beirut, Libanon: Darul Fikr, hlm. 182

Versi penuh klik download 

http://adf.ly/1ZOzqT

PPC Iklan Blogger Indonesia