Tampilkan postingan dengan label jurnal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jurnal. Tampilkan semua postingan

CONTOH MAKALAH ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL

18.15.00 0

ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL
LABOR MARKET DETERMINANTS OF MIGRATION FLOWS IN EUROPE
Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Makro Islam
Dosen pengampu: Andri Martiana, Lc.




Fakultas Agama Islam
Program Studi Ekonomi dan Perbankan Islam
2015

                  A.    DAMPAK TENAGA KERJA ASING
Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan kerja secara tradisional dianggap sebagai salah satu faktor positif yang memacu pertumbuhan ekonomi. Jumlah tenaga kerja yang lebih besar berarti akan menambah jumlah tenaga produktif, sedangkan pertumbuhan penduduk yang lebih besar berarti meningkatkan ukuran pasar domestiknya.
            Positif atau negatifnya pertambahan penduduk bagi upaya pembangunan ekonomi sepenuhnya tergantung pada kemampuan sistem perekonomian yang bersangkutan untuk menyerap dan secara produktif memanfaatkan tambahan tenaga kerja tersebut. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relative lambat menyebabkan masalah pengangguran.[1] Adapun kemampuan itu sendiri lebih lanjut dipengaruhi oleh tingkat dan jenis akumulasi modal dan tersedianya input atau faktor-faktor penunjang, seperti kecakapan manajerial dan administrasi.[2]
Hal lain yang sama pentingnya dengan laju pertumbuhan penduduk dalam mempengaruhi keberhasilan pembangunan ekonomi negara-negara Barat adalah terjadinya migrasi internasional secara besar-besaran pada abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Negara-negara seperti Italia, Jerman, dan Irlandia, dahulu begitu sering dilanda kelaparan dan wabah penyakit yang hebat; ditambah lagi dengan kurangnya lahan serta terbatasnya kesempatan berusaha di sektor industri perkotaan, telah memaksa pekerja-pekerja tidak terampil dari pedesaan untuk pindah ke negara-negara lain yang kekurangan tenaga kerja kasar, seperti Amerika Utara dan Australia.
            Sampai dengan pecahnya Perang Dunia Pertama, migrasi internasional melibatkan jarak-jarak yang jauh dan untuk mencari tempat hidup yang baru yang permanen. Sedangkan dalam periode setelah Perang Dunia Kedua, migrasi lebih banyak terjadi di antara negara-negara Eropa sendiri dan lebih bersifat sementara. Meskipun demikian, faktor pendorong ekonomis yang menjadi latar belakang migrasi tersebut sama saja, yakni mencari kehidupan yang lebih baik di negara asing.migrasi dari daerah-daerah yang kelebihan tenaga kerja di Eropa Selatan dan Tenggara, baik yang bersifat tetap maupun sementara, memberikan keuntungan ganda terhadap daerah asal yang mereka tinggalkan. Pemerintah daerah atau negara asal imigran itu dengan sendirinya terbebas dari biaya-biaya yang harus dikeluarkan guna menyediakan lapangan pekerjaan dan karena sebagian dari pendapatan pekerja migran akan dikirim ke negara asal sehingga merupakan sumber devisa bagi negara asalnya.
            Di antara para imigran yang legal terdapat imigran yang ilegal. Dari sudut pandang negara-negara industri yang menjadi tujuan migrasi, hal itu sudah menjadi masalah serius yang memerlukan langkah penanganan secara drastis. Para imigran tersebut juga dipandang sebagai perampas kesempatan kerja bagi pekerja domestik. Keluarganya juga dicurigai telah memanfaatkan aneka fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan sosial yang sedianya hanya diperuntukkan bagi penduduk setempat sehingga menimbulkan beban berat pada pajak setempat yang digunakan untuk membiayai berbagai pelayanan ini.di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa kini tengah berlangsung perdebatan tentang cara membendung arus masuk para pedagang ilegal itu.mereka menginginkan pembatasan ketat, bahkan larangan total terhadap jumlah imigran yang diijinkan memasuki dan menetap di negara-negara maju. Warga negara lainnya menyerukan pemerintah untuk membuat undang-undang yang melarang para pekerja ilegal dan keluarganya memperoleh berbagai bantuan tunjangan yang diberikan pemerintah pusat dan local kepada warga negaranya.
Ironi mengenai migrasi internasional, bagaimana pun juga, tidak hanya berupa pengangguran kelebihan penduduk secara efektif di negara-negara Dubia Ketiga, tetapi juga berupa penurunan tenaga kerja terampil dan berpendidikan tinggi yang ada di negara-negara tersebut, karena banyak dari mereka yang bermigrasi ke negara-negara kaya. Oleh karena sebagian besar dari emigran berpendidikan tinggi tersebut berpindah secara tetap, maka terjadilah pengurasan sumber daya intelektual alias “brain drain” yang bagi negara asalnya tidak saja merupakan kerugian sumber daya manusia yang nilainya, tetapi juga menjadi penghalang bagi kemajuan ekonomi nasional mereka di masa yang akan datang.[3]
Uni Eropa (European Union/EU) terbentuk pada bulan Februari 1992 bersamaan dengan ditandatanganinya perjanjian Maastricht (Belanda). Anggota EU antara lain Belgia, Denmark, Perancis, Yunani, Irlandia, Italia, Luxemburg, Belanda, Portugal, Spanyol, Inggris, dan Jerman, Austria, Finlandia, Swedia, dan lain-lain.  Sebelum terciptanya EU, masing-masing negara itu memiliki pengawasan perbatasan, pajak, subsidi, kebijakan nasionalistik, dan industri-industi yang diproteksi. Sekarang,
menjadi pasar tunggal disana tidak ada lagi hambatan untuk perjalanan, lapangan pekerjaan, investasi, dan perdagangan.  EU juga sekarang telah membentuk Economic and Monetary Union yang bertanggung jawab untuk pengembangan EURO untuk menjadi satuan ukuran bagi mata uang Eropa.
Sampai sekarang EU masih terus aktif, karena motivasi utama bagi penyatuan Negara-negara Eropa itu adalah supaya memungkinkan mereka mampu menegaskan kembali posisi mereka terhadap kekuatan Industri AS dan Jepang karena dengan bekerja di negara yang terpisah dengan hambatan satu sama lain, industri Eropa tidak mampu mengembangkan efisiensi di bisnis AS dan juga Jepang. EU akan terus berperan penting dalam perekonomian global bagi Eropa.[4]

                  B.     PERANAN SEJARAH MIGRASI INTERNASIONAL
            Hal lain yang sama pentingnya dengan laju pertumbuhan penduduk dalam mempengaruhi keberhasilan pembangunan ekonomi di negara-negara barat adalah terjadinya migrasi internasional secara besar-besaran pada akhir abad 18 dan awal abad 20. Di negara seperti Jerman, Italia dan Irlandia, dahulu begitu sering dilanda kelaparan dan wabah penyakut, ditambah lagi kurangnya lahan dan terbatasnya kesempatan kerja di sektor industry perkotaan. Hal ini memaksa pekerja-pekerja di negara tersebut untuk mencari pekerjaan di negara lain yang kekurangan tenaga kerja kasar, contohnya Amerika Utara dan Australia sehingga pada saat itu perekonomian Amerika Serikat dapat tumbuh dengan begitu cepatnya berkat para imigran Eropa yang mencari kerja disana.
            Didalam periode setelah perang dunia ke II, migrasi lebih banyak terjadi di negara-negara Eropa sendiri dan sifatnya lebih sementara. Meskipun demikian faktor pendorong ekonomi yang menjadi latar belakang migrasi tersebut sama saja, yaitu mencari kehidupan yang lebih baik di negara asing. Migrasi dari daerah-daerah yang kelebihan tenaga kerja di Eropa Selatan dan Tenggara, baik yang bersifat tetap maupun sementara, memberikan keuntungan terhadap daerah yang mereka tinggalkan. Pemerintah daerah asal imigran itu dengan sendirinya terbebas dari biaya-biaya yang harus dikeluarkan guna menyediakan lapangan pekerjaan dan sebagian dari pendapatan pekerja akan dikirim kenegara asal sehingga para pekerja imigran tersebut merupakan sumber devisa bagi negara asalnya.
            Secara historis, perpindahan tenaga kerja dalam wilayah negara atau antarnegara sudah  biasa terjadi di Afrika dan terbukti banyak meringankan beban daerah asal. Bahkan hingga kini pun, keuntungan-keuntungan bertambah terus dan banyak masalah potensial yang dapat ditanggulangi dengan berpindahnya para pekerja tidak terdidik dari Burkina Faso di negara tetangganya, yakni Pantai Gading. Hal ini juga terjadi di Mesir, Pakistan, dan India.
            Meskipun demikian, skala migrasi ini relative terbatas. Dengan beberapa pengecualian, kenyataan membuktikan bahwa kecil sekali kemungkinan pekerja dari negara-negara berkembang akan mampu mengurangi tekanan kelebihan penduduk ditempat asalnya di negara-negara Dunia Ketiga. Migrasi internasional dewasa ini memang sudah terjadi, namun tidak bisa dikatakan besar-besaran. Masalahnya tidak terletak pada kurangnya pengetahuan para pekerja negara-negara maju, melainkan pada jarak geografis yang jauh dan yang lebih penting lagi adalah adanya sikap rasialis dan peraturan-peraturan imigrasi yang sangat ketat di negara-negara maju.
            Sekurang-kurangnya 40 juta orang dari negara-negara Dunia Ketiga telah melakukan migrasi (sebagian besar berhasil mapan) di negara-negara terbesar di Amerika Serikat. Dari sudut pandang negara-negara industry yang menjadi tujuan migrasi, hal itu sudah menjadi masalah serius yang memerlukan langkah penanganan secara drasts. Para migran tersebut juga dipandang sebagai perampas kesempatan kerja bagi pekerja domestik. Di Amerika Serikat dan sejumlah negara Eropa kini tengah berlangsung perdebatan tentang cara membendung arus masuk para pendatang illegal itu. Banyak warga negara Amerika Serikat dan Eropa menginginkan pembatasan ketat, bahkan larangan total, terhadap jumlah imigran yang diijinan memasuki dan menetap di negara-negara maju. Namun, ini tidak menjadi jaminan bahwa arus masuk pekerja asing itu akan berkurang. Yang pasti, pertentangan dan konflik dalam masalah itu akan terus bertambah; para pengangguran di negara-negara Dunia Ketiga akan menempuh jalan apa saja demi mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang lebih layak di negara-negara maju.
            Ironi berikutnya, imigrasi internasional dewasa ini memang relative tertutup bagi tenaga kerja negara-negara Dunia Ketiga yang tidak terdidik, namun ternyata terbuka luas bagi mereka yang berpendidikan tinggi yang tentu saja masih dibutuhkan oleh negara-negara berkembang itu sendiri. Oleh karena sebagian besar dari emigrant berpendidikan tinggi tersebut berpindah secara tetap, maka terjadilah pengikisan sumber daya otak/intelektual yang bagi negara asalnya (negara-negara Dunia Ketiga) tidak saja merupakan kerugian sumberdaya manusia yang tinggi nilainya, tetapi juga menjadi penghalang kemajuan ekonomi nasional mereka di masa yang akan datang.

                  C.    MIGRASI DAN PEMBANGUNAN
            Beberapa tahun yang lalu migrasi dari desa ke kota dianggap sebagai hal yang menguntungkan dalam kajian pembangunan ekonomi. Karena dengan migrasi ini surplus tenaga kerja secara perlahan ditarik dari sektor pedesaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi pertumbuhan industri perkotaan.
            Migrasi juga sering dianggap suatu proses yang bisa menghilangkan ketidak seimbangan struktural antara desa-kota dengan dua cara langsung. Petama, dari sisi penawaran, migrasi yang tidak proporsional mampu meningkatkan tingkat pertumbuhan pencari kerja perkotaan sehubung dengan adanya pertumbuhan penduduk perkotaan, karena proporsi dari orang muda yang berpendidikan cukup baik mendominisir arus migrasi ini. Kehadiran mereka ini mampu meningkatkan penawaran tenaga kerja di perkotaan sedangkan jumlah sumberdaya manusia yang ada di pedesaan semakin berkurang jumlahnya.
            Yang kedua dari sisi permintaan, penciptaan lapangan kerja perkotaan adalah lebih sulit dari penciptaan lapangan kerja pedesaan karena kebutuhan sumberdaya manusianya di sektor industri. Selain itu, tekanan-tekanan dari kenaikan upah perkotaan dan tunjangan-tunjangan tambahan yang diwajibkan bagi para pekerja menyebabkan kenaikan permintaan atas lapangan kerja di perkotaan.
            Dengan demikian, kenaikan penawaran yang cepat dan pertumbuhan pertumbuhan permintaan yang lambat cenderung untuk mengubah masalah ketidakseimbangan tenaga kerja dalam jangka pendek menjadi surplus tenaga kerja di daerah perkotaan dalam jangka panjang.

                 D.    PROSES MIGRASI PARA MIGRAN
            Migrasi adalah perpindahan penduduk dari suatu daerah tertentu ke daerah lainnya.[5] Migrasi ini dipengaruhi banyak faktor, oleh karena itu migrasi merupakan suatu proses memilih yang mempngatuhi individu-individu dengan karakteristik-karakteristik ekonomi, sosial, pendidikan dan daerah tertentu. Banyak penilitian awal tentang migrasi cenderung difokuskan kepada faktor-faktor sosial, budaya dan psikologisnya saja, tapi tidak melihat arti penting dari variabel- variabel ekonomi.
            Penekanan-penekanan tersebut antara lain ditujukan pada:
a.       Faktor sosial, hasrat para migran untuk keluar dari kendala-kendala tradisional dan organisasi-organisasi
b.      Faktor-faktor fisikal, termasuk iklim dan bencana-bencana alam seperti banjir dan tanah lonsor
c.       Faktor demografis, termasuk penurunan tingkat kematian dan pertumbuhan penduduk pedesaan yang tinggi
d.      Faktor budaya, adanya hubungan keluarga yang luas dan adanya anggapan bahwa indahnya kehidupan di kota
e.       Faktor-faktor komunikasi yang dihasilkan oleh baiknya transportasi, sistem pendidikan yang baik dan dampak dari adanya teknologi-teknologi baru.[6]

Karakteristik Migrasi
1.      Karakteristik Pendidikan
            Salah satu temuan dari studi-studi tentang migrasi adalah adanya kondisi yang berpengaruh pada kesempatan memperoleh pendidikan dan migrasi. Tampaknya ada hubungan yang jelas antara tingkat pendidikan yang dicapai dan keinginan untuk bermigrasi. Orang yang berpendidikan tinggi cenderung lebih banyak melakukan migrant di bandingkan yang berpendidikan lebih rendah. Dalam suatu studi yang komprehensif di Tanzania contohnya,hubungan antara pendidikan dan migrasi terbukti secara jelas,terutama dengan kaitannya dengan dampak penurunan kesempatan kerja di perkotaan terhadap karakteristik pendidikan para migrant. Dalam beberapa contoh kasus para tamatan sekolah menengah contoh di Tanzania menyebabkan meningkatnya arus migrasi.Kurangnya pemanfaatan tenaga kerja merupakan gejala yang umum. Hal ini tidak hanya terjadi di negara berkembang dengan tingkat pengangguran yang sangat tinggi tetapi juga hal tersebut terjadi di negara maju.Perbedaan pada spesifikasi penyebab dan proporsi. Dinegara maju penyebab utamanya adalah terlalu tinggi pendidikan atau oleh edukasi dan deskilling ( O'brien 1986). Tingkat pendidikan yang tinggi berarti memiliki kemampuan yang tinggi. Bila tidak termanfaatkan kemampuan itu tidak termanifestasikan dan berkembang, bahkan akan susut dan hilang.Tingkat pendidikan yang tinggi juga meningkatkan aspirasi,keinginan memiliki otonom dan variasi dalam bekerja. Bila hal ini tidak tersalurkan dengan baik maka efek negatif akan muncul. Padahal disisi lain tidak seluruh pekerjaan menuntut pendidikan yang tinggi. Ada beberapa pekerjaan justru lebih menutut adanya ketrampilan dimana tenaga kerja yang dipilih adalah tenaga kerja yang terampil yang benar-benar menguasai bidang pejerjaan tersebut.Hal-hal tersebutlah salah satunya yang menyulut meningkatnya arus migrasi di beberapa daerah.

2.      Karakteristik ekonomi
    Selama bertahun-tahun presentase migrasi yang terbanyak adalah kaum miskin,tidak memiliki arah dan tidak memiliki ketrampilan. Pada zaman penjajahan di Afrika contohnya,migrasi didominasi oleh migrasi dari berbagai tingkat pendapatan yang migrasi dari berbagai tingkat pendapatan yang mencari pekerjaan di perkotaan untuk jangka pendek. Dengan kata lain para migrasi ini datang dari semua tingkat sosio ekonomis yang sebagian besar adalah sangat mungkin karena memang sebagian besar orang- orang pedesaan adalah orang berpenghasilan rendah.Arus migrasi dipengaruhi kuat oleh faktor ekonomi didukung oleh teori dari Lewin Renis-Fei yang menekankan analisisnya terhadap faktor ekonomi. Lewis Renis-Fei menjelaskan proses terjadinya migrasi/ perpindahan tenaga kerja tradisional ke sektor industri modern. Teori ini berpandangan bahwa adanya kelebihan tenaga kerja di sektor tradisional,sementara di sektor industri modern terdapat kesempatan kerja yang cukup banyak sehingga memotivasi para pekerja untuk pindah ke sektor modern dan berakibat terhadap terjadinya migrasi.










DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. 1997. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN.
Arsyad, Lincolin. 1997. Ekonomi Pembangunan, Edisi Keempat. Yogyakarta: KDT.
Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. 2003. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga/edisi kedelapan.  Jakarta: Erlangga.
M. Paulus Situmorang. Managing in A Global Environment. Google Cendekia. (Selasa, 28 April 2015, 22.32).








[1] Lincolin Arsyad, Edisi Pembangunan, Edisi Keempat, Yogyakarta: KDT,  hlm.288.
[2]Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga/edisi kedelapan,2003, Jakarta: Erlangga, hlm. 93.
[3] Ibid, hlm. 109-111.
[4] M. Paulus Situmorang, Managing in A Global Environment, Google Cendekia,(Selasa, 28 April 2015, 22.32).
[5] Lincolin Arsyad, Ekonomi Pembangunan, 1997,  Yogyakarta: Bagian Penerbitan STIE YKPN, hlm. 261.
[6] Ibid, hlm. 262.



CONTOH MAKALAH JENIS DAN UJI HIPOTESIS

06.16.00 0
 MAKALAH
JENIS DAN UJI HIPOTESIS
Disusun Untuk Melengkapi Tugas Mata Metodologi Penelitian
Disusun Oleh :
Saddam Husain
Muntholiatus Sholihah

PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Penelitian  merupakan  salah satu unsur penting dalam kehidupan. Dengan dilakukan  penelitian maka dihasilkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Untuk melakukan penelitian maka harus dilewati berbagai tahapan.Hal ini sesuai dengan pengertian penelitian ilmiah itu sendiri yakni menjawab masalah berdasarkan metode yang sistematis.Salah satu hal penting yang dilakukan terutama dalam penelitian kuantitatif adalah merumuskan hipotesis.
Hipotesis merupakan elemen penting dalam penelitian kuantitatif. Terdapat tiga alasan utama yang mendukung pandangan ini, di antaranya:  Pertama, Hipotesis dapat dikatakan sebagai piranti kerja teori. Hipotesis ini dapat dilihat dari teori yang digunakan untuk menjelaskan permasalahan yang akan diteliti.  Misalnya, sebab dan akibat dari konflik dapat dijelaskan melalui teori mengenai konflik.Kedua, Hipotesis dapat diuji dan ditunjukkan kemungkinan benar atau tidak benar atau difalsifikasi.Ketiga, hipotesis adalah alat yang besar dayanya untuk memajukan pengetahuan karena membuat ilmuwan dapat keluar dari dirinya sendiri. Artinya, hipotesis disusun dan diuji untuk menunjukkan benar atau salahnya dengan cara terbebas dari nilai dan pendapat peneliti yang menyusun dan mengujinya.
Namun tidak semua peneliti mampu menyusun hipotesis dengan baik terutama peneliti pemula.Masih banyak terdapat kesalahan dalam menyusun hipotesis. Untuk menyusun hipotesis yang baik setidaknya peneliti harus mengacu pada kriteria perumusan hipotesis,  bagaimana  jenis-jenis hipotesis dalam penelitian, maupun pemahaman tentang penelitian tanpa menggunakan hipotesis. Selain itu seorang peneliti juga harus mengetahui bagaimana cara menguji hipotesis agar terhindar dari kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis.  Berdasarkan latar belakang tersebut, maka makalah ini akan membahas mengenai hakikat hipotesis hingga kekeliruan yang mungkin terjadi dalam pengujian hipotesis.



PEMBAHASAN

A.  Pengertian Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.[1]
Hipotesis adalah penjelasan yang bersifat sementara untuk tingkah laku kejadian dan peristiwa yang sudah atau akan terjadi.[2]
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap suatu masalah jawaba tersebut masi perlu di uji kebenaranya.Seorang peneliti pasti akan mengamati sesuatu gejala,peristiwa atau masalah yang menjadi fokus perhatianya.Sebelum mendapatkan fakta yang benar,akan membuat tentang gejala,peristiwa,atau masalah atau yang menjadi titik perhatianya tersebut.
Oleh Fred N. Kerlinger secara singkat hipotesis didefinisikan sebagai pernyataan yang merupakan terkaan mengenai hubungan antara dua variable atau lebih.Hipotes dibuat atas dasar pengetahuan-pengahuan yang di ambil dari problematik-problematik  yang diambil dari penelitian yang mendahuluinya, dari renungan-renungan atas pertimbangan yang maksut akal.Hipotesisis hendaknya konsisten dengan peelitian-penelitian yang di bahas dalam tinjauan literature.Peneliti membuat suatu konjensasipersoaalan dan merumuskanya dalam bentuk pernyataan.Hipotesis merupakan rangkuman atau kesimpulan dariteori-teori  maupun hasil dari penelitian dari hasil penelitian pendahulu yang relevan(yang di  kemukakan dalam kajian pustaka)Sebagai jawaban dari masalah yang telah di rumuskan untuk di ujikebenaranya menggunakan data-data empiris.
B.  Ciri-ciri hipotesis yang baik:
Suatu hipotesis di anggaap baik apabila memenuhi bebertapa kerteria seperti berikut:
a.    Hipotesis harus menyatukan hubungan
Ini berarti bahwa hipotesis merupakan pernyataan dugaan tentang hubungan antara variable.Hipotesis mengandung dua atau lebih variable yang dapat diukur ataupun secara potensial dapat di ukur.Hipotesis menspensifasikan bagaimana variable-variabeltersebut berhubungan.
b.   Hipotesis harus sesuai dengan fakta
Ini berarti bahwa hipotesis harus terang,konsep dan variable harus jelas. Hipotesis harus dapat dimengerti dan tidak mengandun hal-hal yang bersifat metafisis.
c.    Hipotesis harus sesuai dengan ilmu,
Tumbuh dengan ilmu pengetahuan ini berarti bahwa Hipotesis harus ada hubunganya dengan ilmu pengetahuan dan berada dalam bidang penelitian yang sedang di lakukan.
d.   Hipotesis harus dapat diuji
Ini berarti Hipotesis,baik secara nalar kekuatan dapat memberi   alasan ataupun dengan menggunakan alat-alat statistic dapat di uji.
e.    Hipotesis harus sederhana
Ini berarti Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk spesaifik/Khas untuk menghindari terjadinya kesala fahaman pengetian.
f.    Hipotesis harus dapat menerangkan fakta
Ini berarti bahwa hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang menerangkan hubungan fakta-fakta yang ada dan dapat dikaitkan dengan tektik pengujian yang dikuasai.
Pendapat lain mengatakan bahwa sebuah hipotesis penelitian dikatakan baik apabila memiliki ciri-ciri:
a.       Jelas secara konseptual.
b.      Mempunyai rujukan empiris.
c.       Bersifat spesifik.
d.      Dapat dihubungkan dengan teknik penelitian yang ada.
e.       Berkaitan dengan teori.[3]
C.   Jenis-Jenis Hipotesis
1. Hipotesis Nol (Ho) 
Hipotesis nol (H0) adalah hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y). Artinya, dalam rumusan hipotesis,  yang diuji adalah ketidakbenaran variabel (X) mempengaruhi (Y). Ex: “tidak ada hubungan antara warna baju dengan kecerdasan mahasiswa”.
2. Hipotesis Kerja (H1)
Hipotesis Kerja (H1) adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antara variabel independen (X) dan variabel dependen (Y) yang diteliti. Hasil perhitungan H1 tersebut, akan digunakan sebagai dasar pencarian data penelitian.
Jenis – jenis hipotesis :
a.    Hipotesis dilihat dari kategori rumusannya
Dibagi menjadi dua bagian yaitu (1) hipotesis nihil yang biasa disingkat dengan Ho (2) hipotesis alternatif biasanya disebut hipotesis kerja atau disingkat Ha.
Hipotesis nihil (Ho) yaitu hipotesis yang menyatakan tidak ada hubungannya atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain. Contohnya: Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
Hipotesis alternatif (Ha) adalah hipotesis yang menyatakan adanya hubungan atau pengaruh antara variabel dengan variabel lain. Contohnya: Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa SD.
Hipotesis alternatif ada dua macam, yaitu directional Hypotheses dan non directional Hypotheses.[4]
Hipotesis terarahadalah hipotesis yang diajukan oleh peneliti, dimana peneliti sudah merumuskan dengan tegas yang menyatakan bahwa variabel independen memang sudah diprediksi berpengaruh terhadap variabel dependen. Misalnya: Siswa yang diajar dengan metode inkuiri lebih tinggi prestasi belajarnya, dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan metode curah pendapat.
Hipotesis tak terarah adalah hipotesis yang diajukan dan dirumuskan oleh peneliti tampak belum tegas bahwa variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen. Fraenkel dan Wallen (1990:42) menyatakan bahwa hipotesis tak terarah itu menggambarkan bahwa peneliti tidak menyusun prediksi secara spesifik tentang arah hasil penelitian yang akan dilakukan.
Contoh: Ada perbedaan pengaruh penggunaan metode mengajar inkuiri dan curah pendapat terhadap prestasi belajar siswa.
Hipotesis penelitian barulah di perlukan jika peneliti mempersoalkan hubungan antara variable (setidak-tidaknya mempersoalkan hubungan variable) dalam pembahasan tentang “format-format penelitian”,disebut dengan penelitian eksplanasi,yaitu suatu jenis penelitian yang dimaksudkan untuk “menjelaskan” hubungan antara Variabel.[5]
b.         Hipotesis dilihat dari sifat variabel yang akan diuji.
Dilihat dari sifat yang akan diuji, hipotesis penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) hipotesis tentang hubungan dan (2) hipotesis tentang perbedaan.
Hipotesis tentang hubungan yaitu hipotesis yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih, mengacu ke penelitian korelasional.
Hubungan antara variabel tersebut dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik, hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik, hubungan yang menunjuk pada sebab akibat tetapi timbal balik.
a)      Hubungan yang sifatnya sejajar tidak timbal balik, contohnya: Hubungan antara kemampuan fisika dengan kimia.Nilai fisika mempunyai hubungan sejajar dengan nilai kimia, tetapi tidak merupakan sebab akibat dan timbal balik. Nilai fisika yang tinggi tidak menyebabkan nilai kimia yang tinggi, dan sebaliknya. Keduanya memiliki hubungan mungkin disebabkan karena faktor lain, mungkin kebiasaan berpikir logik (tentang ke IPA-an) sehingga mengakibatkan adanya hubungan antara keduanya.
b)      Hubungan yang sifatnya sejajar timbal balik. Contohnya: Hubungan antara tingkat kekayaan dengan kelancaran berusaha. Semakin tinggi tingkat kekayaan, semakin tinggi tingkat kelancaran usahanya, dan sebaliknya.
c)      Hubungan yang menunjuk pada sebab-akibat, tetapi tidak timbal balik. Contohnya hubungan antara waktu PBM, dengan kejenuhan siswa. Semakin lama waktu PBM berlangsung, siswa semakin jenuh terhadap pelajaran yang disampaikan.
     Sedangkan hipotesis tentang perbedaan, yaitu hipotesis yang menyatakan perbedaan dalam variabel tertentu pada kelompok yang berbeda.Hipotesis tentang perbedaan ini mendasari berbagai penelitian komparatif dan eksperimen.
Contoh (1): Ada perbedaan pretasi belajar siswa SMA antara yang diajar dengan metode ceramah + tanya jawab (CT) dan metode diskusi (penelitian eksperimen).
Contoh (2): Ada perbedaan prestasi belajar siswa SMA antara yang berada di kota dan di desa (penelitian komparatif).
D. Jenis Hipotesis yang dilihat dari keluasan atau lingkup variabel yang diuji.
           Ditinjau dari keluasan dan lingkupnya, hipotesis dapat dibedakan menjadi hipotesis mayor dan hipotesis minor.Hipotesis mayor adalah hipotesis yang mencakup kaitan seluruh variabel dan seluruh objek penelitian, sedangkan hipotesis minor adalah hipotesis yang terdiri dari bagian-bagian atau sub-sub dari hipotesis mayor (jabaran dari hipotesis mayor).
Contoh: Hipotesis Mayor
“Ada hubungan antara keadaan sosial ekonomi (KSE) orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP”.
Contoh: Hipotesis Minor.
1.   Ada hubungan antara tingkat pendidikan orang tua dengan prestasi  belajar siswa SMP.
2.   Ada hubungan antara pendapatan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP.
3.   Ada hubungan antara kekayaan orang tua dengan prestasi belajar siswa SMP.

Karakteristik Hipotesis yang Baik
Sebuah hipotesis atau dugaan sementara yang baik hendaknya mengandung beberapa hal. Hal – hal tersebut diantaranya :
1.      Hipotesis harus mempunyai daya penjelas
2.      Hipotesis harus menyatakan hubungan yang diharapkan ada di antara variabel-variabel-variabel.
3.      Hipotesis harus dapat diuji
4.      Hipotesis hendaknya konsistesis dengan pengetahuan yang sudah ada.
5.      Hipotesis hendaknya dinyatakan sesederhana dan seringkas mungkin.

D.    Uji coba hipotesis
Suatu hipotesis harus dapat diuji berdasarkan data empiris, yakni berdasarkan apa yang dapat diamati dan dapat diukur. Untuk itu peneliti harus mencari situasi empiris yang memberi data yang diperlukan. Setelah kita mengumpulkan data, selanjutnya kita harus menyimpulkan hipotesis , apakah harus menerima atau menolak hipotesis. Ada bahayanya seorang peneliti cenderung untuk menerima atau membenarkan hipotesisnya, karena ia dipengaruhi bias atau perasangka. Dengan menggunakan data kuantitatif yang diolah menurut ketentuan statistik dapat ditiadakan bias itu sedapat mungkin, jadi seorang peneliti harus jujur, jangan memanipulasi data, dan harus menjunjung tinggi penelitian sebagai usaha untuk mencari kebenaran.
Hasil suatu penelitian pada hakikatnya adalah suatu jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan di dalam perencanaan penelitian.Untuk mengarahkan kepada hasil penelitian ini dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban sementara dari penelitian ini.
Jawaban sementara dari suatu penelitian ini biasanya disebut hipotesis. Jadi hipotesis di dalam suatu penelitianr berarti jawaban sementara penelitian, patokan juga, atau dalil sementara yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian tersebut. melalui pembuktian dari hasil penelitian, maka hipotesis ini dapat benar atau salah, dapat diterima atau ditolak.
Kesimpulan yang diperoleh dari pembuktian atau analisis dari dalam menguji rumusan jawaban sementara atau hipotesis itulah akhir suatu penelitian.Hasil akhir penelitian ini disebut juga kesimpulan penelitian, generalisasi atau dalil yang berlaku umum, walaupun pada taraf tertentu hal tersebut mempunyai perbedaan tingkatan sesuai dengan tingkat kemaknaan (significantcy) dari hasil analisis statistik.Hasil pembuktian hipotesis atau hasil akhir penelitian ini juga sering disebut thesis.
Hipotesis ditarik dari serangkaian fakta yang muncul sehuhubungan dengan masalah yang diteliti. Dari fakta dirumuskan hubungan antara satu dengan yang lain dan membentuk suatu konsep yang merupakan abstraksi dari hubungan antara berbagai fakta.
Hipotesis sangat penting bagi suatu penelitian karena hipotesis ini maka penelitian diarahkan.Hipotesis dapat membimbing (mengarahkan) dalam pengumpulan data.
Secara garis besar hipotesis dalam penelitian mempunyai peranan sebagai berikut:
1.      Memberikan batasan dan memperkecil jangkauan penelitian.
2.      Memfokuskan perhatian dalam rangka pengumpulan data.
3.      Sebagai panduan dalam pengujian serta penyesuaian dengan fakta atau data.
4.      Membantu mengarahkan dalam mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diteliti (diamati).

PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sebagai pedoman kerja, peneliti menetapkan sebuah hipotesis yang dijadikan arahdalam menetapkan variabel, mengumpulkan data, mengolah data dan mengambil kesimpulan.Pada dasarnya, pekerjaan meneliti adalah usaha untuk membuktikan hipotesis.Hipotesis merupakan jawaban sementara yang harus diuji.Pengujian itu bertujuan untuk membuktikan apakah hipotesis diterima atau ditolak.Hipotesis berfungsi sebagai kerangka kerja bagi peneliti, memberi arah kerja, dan mempermudah dalam penyusunan laporan penelitian.
Ada 2 macam hipotesis, yaitu hipotesis kerja, yang juga disebut hipotesis alternatif (Ha) dan hipotesis nol (Ho) (hipotesis nihil) yang juga disebut hipotesis statistik.Sehubungan dengan perumusan hipotesis maka ada 2 kekeliruan yang kita buat:
a.    Menolak hipotesis yang seharusnya diterima, disebut kekeliruan alpha (ɑ).
b.   Menerima hipotesis yang seharusnya ditolak, disebut kekeliruan beta (β).
Cara menguji hipotesis, menggunakan daerah kurva normal. Apabila harga Z-score
terletak di daerah penerimaan Ho, maka Ha yang dirumuskan, tidak diterima.

B.     Saran
Kepada pembaca diharapkan untuk terus meningkatkan kompetensi dan wawasan yang berhubungan dengan penelitian. Hal ini dikarenakan penelitian merupakan cara primer manusia dalam mengembangkan kajian ilmu. Dengan berkembangnya ilmu bimbingan dan konseling tentunya akan mempermudah personal-personal dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup yang makin kompleks mengikutiperkembangan masa








DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi.1997. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.Jakarta: Rineka Cipta

Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. ALFABETA : Bandung
Faisal sanapiah, 2007.Format – format Penelitian Sosial. PT RAJAGRAFINDO : Jakarta.
Hasan iqbal. 2004. Analisis data penelitian dengan statistic. PT.BUMI AKSARA: Jakarta
Sugoyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. ALFABETA : Bandung






[1]Prof.Dr.sugiyono,Metode penelitian,Hal 96
[2]Prof.Dr.Hamid,M.PdMetode penelitian pendidikan,hal.44
[3] Iqbal hasan, analisis data penelitian dengan statistic, hal 31-32
[4]Suharsimi Arikunto, 1989:57
[5] Sanapia faisal,format-format penelitian social,hal 1020
PPC Iklan Blogger Indonesia